Renungan Jiwa Rasa

28 Agustus 2008 pukul 12:01 | Ditulis dalam bagaikan bangunan, irodatul khoir lil ghoir | 7 Komentar

Kalau memang ukhuwah Islamiyah bisa ditumbuhkan dengan mendirikan berbagai organisasi dengan AD/ARTnya, dan berlembar-lembar kartu anggota. Kalau memang tegaknya aturan Allah bisa dengan sekedar meneriakkan semboyan dan menempelkan poster-poster. Kalau memang bersatunya ummat bisa diwujudkan dengan menebar berbagai anjuran dan ajakan bahkan propaganda dan kampanye lisan dan tulisan. Kalau memang itu semua adalah sebagai jalan utama, seharusnya ukhuwah sudah lama tegak di negeri ini, tumbuh subur di tengah-tengah umat Islam dan kedamaian merebak di seluruh sendi masyarakat luas.

Sudah banyak anjuran lisan dan tulisan ayat dan hadits tentang ukhuwah. Sudah beribu bahkan juta edisi diberikan pada masyarakat dalam bentuk majalah, buku dan surat kabar. Bahkan sudah banyak situs, juga blog, yang menuliskannya setiap hari. Tak pernah berhenti. Juga, sudah didengar, dibaca, dihafal, dikunyah dan ditelan orang banyak.

Namun rupanya ukhuwah belum kunjung tercipta, belum terasa adanya. Cekcok dan pertengkaran serta caci maki masih sering terdengar. Silang sengketa dan saling curiga masih kental berwarna. Saling menyalahkan, merasa diri paling benar serta kesombongan masih menjadi hiasan.

Apa yang masih kurang?

Bila ukhuwah belum tercipta. Islam belum meraja. Tandanya pekerjaan belum usai. Masih ada yang ketinggalan belum dikerjakan.

Ukhuwah. Rasa yang muncul dari hati. Dia adalah pekerjaan hati, fi’lul qolbi. Maka yang bisa menyelesaikan persoalan hati ya juga hati. Gunakan hati.

Jadilah, salah satu rahasia tegaknya ukhuwah adalah pada sikap dan perbuatan kecil dalam keseharian. Dia menjadi satu pilar utama bagi tegaknya ukhuwah. Bagaimana bangunan akan kokoh bila pondasinya rapuh? Bahkan bagaimana akan mendirikan bangunan kalau tak ada pondasinya?

Mulai dari urusan pribadi, lalu keluarga, dilanjutkan dengan masyarakat lalu negara.

Kita memulai pekerjaan dengan basmalah dan niat lurus. Makan dan minum dengan duduk dan menggunakan tangan kanan, masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan, masuk kamar mandi dengan mendahulukan kaki kiri, memotong kuku di hari Jum’at, mencukur kumis dan memelihara jenggot bagi lelaki. Suka mengganjilkan amalan.

Membiasakan salam dalam keluarga dan ketika bertemu saudara, berwajah cerah, saling bertegur sapa, mengunjungi yang sakit lalu mendoakan kebaikan, mengantar jenazah ke kubur, peduli dengan kehidupan sejawat, menghibur yang berduka, membukakan pintu bagi yang terpelanting, bagi para dhu’afa. Husnudhon dan saling membela. Cenderung kepada amal jam’i.

Islam adalah contoh. Teladan. Contoh cara dan hasil. Rasulullah sas adalah cerminan.

Para pemimpin adalah contoh bagi umat. Dengan contoh yang tepat, maka hasil bisa didapat. Meski kecil, jika amalan itu keluar dari hati yang ikhlash akan menjadi perekat yang mengikat ukhuwah.

Selama ini, yang terpanggil baru telinga dan kata, karena yang berbicara hanya lidah dan pena, bukan hati dan jiwa. Kita, selama ini lebih tertarik dengan cara borongan, demonstratif, pokok keluar, asal kelihatan banyak. Namun sering lupa rasa. Lupa jiwa. Lupa diri.

Semuanya dimulai dari hal kecil. Diawali dari diri pribadi.

Iklan

7 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. yah perbaiki diri lebih utama sebelum perbaikan ummah..kenali dir tuk mengenal kehidupan dan tuhan

  2. ups, ada satu lagi lho kenapa muslimin masih suka cekcok:
    setan terus menebarkan api kebencian di hati sebagian muslimin. ada yg sampe’ murup, ada yg cuma keluar asap dan ada juga yg langsung reflek memadamkannya.

  3. setujuuuuuu……
    (sudah dimulai ISBN-nya pak/mas??)


    Kok IBSN?
    Tapi ya gitu deh, masih belum sempat jalan-jalan. Masih adaptasikan perut dan hati dengan Ramadhan. Met poso ya Mas….

  4. Bapak…bila ada salah-salah kata…mohon dimaafkan lahir bathin nggihh….

  5. Kok tumben Pak lama nggak muncul…
    Menikmati Puasa ya Pakkk…


    Wah. iya ni Mbak, lagi asyik dengan agenda Ramadhan. Maunya nekat ngeblog tapi ya gitu, sak longgare. Ma’af ya…. Selamat bepuasa juga ya Mbak. Kalau soal maaf mema’afkan, saya nggak nunggu-nunggu kok. Tiap kali ada yang tak mengenakkan hati ya langsung dima’afkan. Tak perlu nunggu lebaran.

  6. Untuk semua deh….
    Makasih aja ya….

  7. […] Yakinku […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: