Bagaikan Bangunan (kedua)

14 Juli 2008 pukul 21:46 | Ditulis dalam bagaikan bangunan | Tinggalkan komentar

Pekerjaan.

Ini memang menjadi fitnah sepanjang zaman. Ya, aku menyebutnya fitnah, ujian. Banyak yang tertipu karena pekerjaan. Makanya aku bilang dia itu fitnah. Kenapa tertipu? Ya. Ada yang bilang, bekerja itu kebutuhan aktualisasi diri. Banyak yang bilang bekerja itu kewajiban sebagai pemimpin rumah tangga. Bahkan banyak pihak mengatakan bekerja adalah ibadah. Yang lucu tapi nggak bikin tertawa adalah, bekerja adalah waktunya menyingkir dari rumah.

Ada sebuah kisah menarik yang aku masih ingat. Ada seorang murid pesantren yang lulus dengan prestasi memuaskan, paling tidak bagi para ustadznya. Karena prestasinya itu, sang murid di’tugasi’ mengajar di pesantren tersebut. Sebagai bentuk kepatuhan dan penghormatannya atas hak guru, sang murid pun jadilah ustadz di pesantren yang mendewasakannya itu.

Sehari, sebulan, setahun berlalu. Tak ada hal aneh yang terjadi. Sang ‘murid’ pun dihormati oleh murid-murid yang juga adik seperguruannya. Dia menjadi motivator yang membangkitkan semangat tempur bagi adik-adik kelasnya dalam menuntut ilmu. Rupanya menjadi seorang ustadz masih menjadi idola bagi para murid pesantren itu. Meskipun ‘profesi’ sebagai guru pesantren jauh dari gemerlap gaya hidup para kaum kota. Lebih berasa ‘amal sholih’nya daripada sebagai bentuk profesionalisme yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

Beberapa tahun menjalani profesi sebagai guru pesantren, rupanya tak menghilangkan ‘rasa’ kemanusiaannya. Dia tetap manusia biasa yang pada waktunya mulai memikirkan segala bentuk tuntutan kehidupannya. Mulai dari ma’isyah yang menghasilkan sekedar uang bekal hidup esok hari, sampai perkara hidup sebagai makhluk sosial yang memerlukan teman seperjuangan mengarungi lautan kehidupan. Mendapatkan jodoh dan menikah dengannya. Terbayang pula bagaimana rasanya ketika ‘anak-anaknya’ berebut tempat di pangkuan ayahnya. Betapa manis.

Sampai suatu ketika, sang ‘murid’ pun merasakan bahwa perikehidupannya belum siap untuk memenuhi kebutuhan pribadinya yang berkaitan dengan hal hidupnya itu. Memang dalam soal pangan dan sandang serta papan sudah dia dapatkan di pesantren itu. Namun dia tidak bisa memungkiri bahwa hidupnya tidak cukup hanya dengan mengandalkan kelonggaran pesantren yang dia pun pernah merasakan menjadi salah seorang santrinya. Dia tak dikenakan biaya dalam menjalani kehidupan sebagai santri di sana. Segala sumber pendanaan pesantren diserahkan kepada para dermawan yang memang membutuhkan media untuk membelanjakan hartanya dalam kebaikan.

Terbayang dibenaknya kala sang istri yang masih sekedar andai-andai itu mesti berusaha memenuhi kewajibannya dalam mengelola rumah tangganya. Menyiapkan kebutuhan suami dan anak-anaknya. Dari mana dia mesti mendapatkan sumber kehidupannya? Bagaimana dia mesti mendanai proyek besar kehidupannya itu? Apakah bergaya seperti tawakkalnya burung saja? Tetapi kebutuhan burung tak seperti kebutuhannya. Dan burung pun makin tersingkir oleh manusia yang menggunakan akalnya secara semena-mena. Burung yang tak memiliki akal seperti dirinya. Akal yang tidak diberikan oleh Allah begitu saja tanpa ada peruntukannya. Dia manusia, yang diberikan akal oleh Allah. Dan akal itu pasti ada fungsinya. Dan dia tak ingin menjadi burung yang tersingkir. Bukannya dia ingin menolak sabda Nabi yang menggambarkan bahwa sebaik-baik tawakkal adalah tawakkalnya seekor burung. Namun bagaimana dia ingin menjalani tawakkal itulah yang menjadikan dia harus berpikir menggunakan akalnya. Akal seorang manusia.

Akhirnya dengan pertimbangan yang menurutnya sudah matang, dia menemui ustadznya. “Ustadz, saya mau pamit.” Sang ustadz pun mengernyitkan keningnya. “Pamit? Ke mana dan ada apa?” Saya mau pamit meninggalkan pesantren beberapa waktu untuk mencari kerja, Ustadz. Paling tidak, saya merasa perlu untuk menyisihkan sebagian waktu saya untuk berbagi antara mengajar dan bekerja.” Demikian sang murid memberanikan dirinya menyampaikan alasannya.

“Kamu pamit mau cari kerja? Dan kamu disini sudah bekerja. Mengajar adalah bekerja. Tetapi kamu pamit mau cari kerja? Kamu di sini mengajar. Mengajar adalah bekerja. Dan kamu pamit untuk bekerja……” terus saja sang ustadz memutar-mutar kata itu sehingga sang murid pun merasa tidak ada peluang baginya untuk meneruskan maksudnya itu. Dia pun pamit undur diri kembali ke kamarnya. Dan dia pun meneruskan aktifitas rutinnya. Mengajar.

Cerita pun berakhir sementara di situ.

Yang menjadi menarik dihatiku adalah mengapa muncul keadaan yang demikian? Tak menarik lagikah kehidupannya sebagai ‘guru’ di pesantren? Sebegitu besarkah tarikan magnet kehidupan ini sehingga berhasil mempengaruhi benak pemikiran seorang santri terbaik untuk meninggalkan ‘dunia’nya? Atau, memang sedemikian meranakah kehidupan seorang guru pesantren yang seluruh energi hidupnya dia curahkan untuk mencerdaskan para muridnya? Yang segala tindak-tanduknya, setiap langkah kaki dan lambaian tangannya, setiap kata bahkan setiap kedipan matanya serta degup hati dan jantungnya dia jadikan sebagai bentuk dedikasinya mendidik dan menta’dib anak-anak manusia itu? Sedemikian rendahkah penghargaan para makhluq Allah diluar dinding pesantrennya terhadap ‘pengabdian’ yang dia lakukan? Yang anak-anak mereka pun berada di balik dinding itu? Padahal bukanlah pundi-pundi kekayaan yang dia harapkan melainkan sekedar bekal untuk menyertai langkahnya meniti hari-harinya ke depan.

Kalau yang pertama yang terjadi. Betapa kerdilnya pemikiran seorang santri terbaik. Tak cukupkah ilmu yang dia timba selama di pondoknya? Tak mampukah akal sehatnya mengajaknya berpikir sehat? Atau, kalau memang yang terakhir itu yang terjadi, betapa tak berimbangnya cara pandang manusia sebagai masyarakat terhadap kebutuhannya sendiri. Kebutuhan akan kesinambungan sebuah generasi yang berpegang teguh kepada prinsip luhur pengabdian manusia kepada Penciptanya. Betapa penghargaan yang sudah selayaknya diberikan kepada sang murid sekaligus guru itu akhirnya tak terpenuhi. Ibarat bangunan, betapa pilar-pilar penyangga itu tak mendapatkan besi yang kuat bagi tertempelnya semen dan pasir padanya. Yang tak berapa lama, runtuhlah dia. Dan dengan keruntuhannya itu, roboh pulalah bangunan yang semula tampak kokoh berdiri. Bahkan atap yang meneduhi penghuninya pun ikut roboh bersama pintu dan jendela. Betapa mengerikan bila ini yang terjadi.

Ah……

Aku menggeliat. Seakan tersadar bahwa malam semakin kelam. Suara nafas teratur istriku semakin jelas kudengar.

Dia adalah pilar….

Dan aku adalah atap….

Bagi keluargaku….

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: