Aktivis Islam Ditangkap, Preman Dibebaskan

3 Juli 2008 pukul 12:54 | Ditulis dalam jalan-jalan | Tinggalkan komentar

Sikap para pemabuk itu benar-benar keterlaluan. Diingatkan bukannya sadar dan insyaf, malah melawan dan menghina. Mereka pun menebarkan teror dengan mengancam aktivis masjid yang mengingatkannya. Akhirnya, bentrok pun terjadi antara preman pemabuk dan para aktivis masjid. Preman yang bernama Heru Yulianto alias Kipli tewas.

Edi Lukito, Ketua DPP Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), menjelaskan kronologi penyerangan para preman itu terhadap jamaah Masjid Muslimin, Kusumodilagan, Surakarta kepada Suara Islam. Ia mengatakan, bentrok massal itu diawali oleh peristiwa pada Sabtu, 8 Maret 2008, pukul 20.00 WIB. Kala itu, enam orang termasuk Kipli, sedang mabuk-mabukan di sekitar pertigaan Pasar Besi, Kusumodilagan.

Beberapa jamaah masjid yang berjarak ± 50 m dari tempat mereka mabuk, kemudian mengingatkan secara baik-baik agar para pemabuk itu tidak mabuk di tempat itu. Para pemabuk itu pun pergi. Namun ketika pergi itu mereka mengeluarkan kata-kata kotor (Jawa: misuh-misuh).

Permasalahan tidak lantas berakhir. Di waktu yang lain, Kipli mendatangi rumah Abu Hurairah sambil membawa pedang. Ia menggedor pintu rumah Abu Hurairah sambil berkata, ”Mana Abu Hurairah, tak patenane! (mau saya bunuh!)”

Ia kemudian mondar-mandir di depan Masjid Muslimin sambil membawa pedang dan berkata, “Mana sih orang Islam, tak cukur jenggotnya, tak slomot (mau saya sundut) rokok mukanya.” Kejadian tersebut disaksikan oleh jamaah masjid dan warga sekitar.

Pada Kamis, 11 Maret 2008, pukul 20.00 WIB di sekitar pertigaan daerah Pasar Besi Kusumodilagan, tiga orang pemuda termasuk Kipli kembali mabuk. Ia kembali diingatkan. Namun yang terjadi ia justru mengancam dengan membawa senjata tajam (2 bilah pedang)  dan kembali mencari Abu Hurairah.

Ahad, 15 Maret 2008, pukul 19.30 WIB, mereka mengulangi ancamannnya terhadap Abu Huroiroh. Ia katanya akan membunuhnya.

Pada Senin, 17 Maret 2008, sejak  pukul 18.30 hingga 21.00 WIB para preman  yang jumlahnya lebih kurang 50 orang itu berkumpul dan mereka pun mabuk. Mereka diduga akan menyerang Masjid Muslimin.

Mengetahui hal itu, jamaah masjid pun berjaga-jaga. Mereka kurang lebih 50 orang. Salah seorang jamaah kemudian menelpon Polsekta Pasar Kliwon dan diterima polisi jaga bernama Samingun. Namun aparat kepolisian tidak segera merespon aduan itu.

Sementara itu, sepuluh orang jamaah masjid memantau situasi di jalan utara Masjid Muslimin. Dari arah timur, tampak kelompok yang dipimpin Kipli semakin banyak. Sebagian membawa pedang dan pentungan. Salah seorang anggota jamaah kembali menelpon polisi, kali ini ke Kasat Intel Poltabes, Jaka Wibawa. Jawabannya, Jaka berjanji  untuk segera mengirim aparatnya ke lokasi.

Saat itu tiba-tiba kelompok Kipli merangsek ke arah barat sambil mengacung-ngacungkan pedang. Sepuluh orang  jamaah yang berjaga-jaga dan memantau gerak gerik kelompok preman itu spontan bertakbir. Mendengar takbir, jamaah segera keluar dari masjid.

Para pemabuk dan preman dengan menggunakan senjata berupa pedang, besi dan lainnya langsung menyerang jamaah masjid yang ada tepat di jalan utara Masjid Muslimin. Mendapat serangan seperti itu, jamaah masjid terpaksa membela diri. Tawuran pun tak dapat di hindarkan. Sayangnya aparat tak kunjung datang. Polisi justru datang setelah bentrokan selesai.

Perlakukan Sewenang-wenang

Setelah tawuran, sebagian besar jamaah membubarkan diri dan sebagian kecil berjaga-jaga di masjid. Penyerangan oleh preman itu mengundang simpati beberapa elemen masyarakat untuk berpartisipasi menjaga Masjid Muslimin.  Pada saat seperti itu, tersiar kabar Kipli mati di rumah sakit Kustati.

Penjagaan aparat semakin bertambah. Polisi kemudian mendekat ke Masjid Muslimin. Tiba-tiba aparat kepolisian itu meminta jamaah masjid yang ada di dalam masjid segera keluar untuk kemudian dibawa ke Poltabes. Beberapa elemen yang bersimpati dan berjaga di luar masjid Muslimin pun ditangkap paksa dan diangkut dengan truk Dalmas ke Poltabes. Mereka ditangkap tanpa dilengkapi surat penangkapan. Atas bujukan dua orang negosiator yang di dalam masjid akhirnya sebanyak 117 orang terpaksa keluar menuju truk Dalmas dengan jaminan tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh aparat. Untuk membuktikan janji polisi itu, beberapa takmir masjid memantaunya ke Poltabes.

Namun janji polisi itu bohong. Polisi menurunkan para jamaah masjid itu dengan tendangan, injakan dan pukulan serta makian. Kata-kata kotor pun keluar dari lisan  oknum polisi seperti: ”Bajingan, whedus-whedus “embeeek”(kambing), kethek-kethek (monyet). Ini mau jihad atau mau perang?”

Bahkan, menurut Edi Lukito, bendera tauhid Islam yang bertuliskan La illaha ilallah pun diperlakukan tidak sewajarnya. Jamaah masjid ini lalu disuruh melepas baju/kaos dan berjalan sambil jongkok dari halaman Reskrim menuju aula Reskrim lantai dua, sambil ditendang aparat. Melihat kejadian ini beberapa orang takmir masjid meminta kepada salah seorang Kanit di intel, Syakir dan Kanit di Reskrim, AKP Digdo Kristanto untuk menghentikan perlakuan sewenang-wenang tersebut. ”Tetapi kami justru diusir dari lokasi tersebut. Kami pun pulang namun penganiayaan secara bersama-sama yang dipimpin AKP Antonius Digdo Kristanto itu terus berlanjut,” ujar Edi.

Disesalkan

Ketua Forum Ukhuwah Jamaah Masjid (FUJAS) Surakarta, Dr Mu’inudinillah, mengutip kesaksian dari beberapa orang aktivis masjid yang ditangkap membenarkan adanya pemukulan itu. Ia mengatakan bahwa para jamaah  itu memang telah mendapatkan perlakukan yang sewenang-wenang dari oknum polisi. ”Mereka dipukuli, ditendang, dan dikata-katai kotor,” ujarnya pada Suara Islam.

Mu’idinillah sangat menyesalkan tindakan polisi itu. Seharusnya polisi itu bisa membedakan antara tindakan kriminal dengan peristiwa perang. ”Apalagi para aktivis masjid saat itu membela diri dari serangan preman itu,” ujarnya. Karena itulah ia pun meminta polisi untuk menghentikan tindakan kekerasan itu.

Hal yang sama juga disampaikan ketua MUI Kota Surakarta, Prof. Moch Soleh Ichrom Phd. MUI sebenarnya sudah mengonfirmasi polisi kebenaran peristiwa itu. MUI mendapat jawaban yang bervariasi dari polisi. Namun berdasarkan pengakuan para saksi, polisi memang telah memperlakukan para aktivis yang ditangkap itu sewenang-wenang. ”Tindakan polisi itu tidak benar dan melanggar HAM,” ujarnya ketika dihubungi Suara Islam.

Perlakuan polisi itu juga disesalkan oleh KH Mudzakir Shiddiq, ketua Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS). Menurutnya polisi itu harusnya bersikap arif terhadap aktivis masjid yang ditangkap itu. ”Jangan asal gebuk,” ujarnya.

Yang sangat disesalkan oleh umat Islam selain itu adalah sikap polisi yang  tidak adil. Mereka mempertanyakan kenapa hanya para aktivis masjid yang ditangkap. Meski sumber di kepolisian mengatakan kepada MUI akan memproses semuanya, namun kenyataannya sampai saat ini para preman itu tidak ditangkap. ”Harusnya polisi bersikap adil,” ujar Dr Mu’inudinillah.

Bentrok antara para aktivis masjid dan preman itu sehingga ada yang tewas disesalkan banyak pihak. Namun katanya, itu tidak akan terjadi kalau aparat kepolisian bersikap tegas terhadap ulah para preman yang selama ini meresahkan warga. Termasuk dalam memberantas minuman keras. ”Kan tentang minuman keras itu ada undang-undang yang melarangnya, ” ujarnya KH Mudzakir.

Sementara itu beberapa waktu setelah peristiwa itu, Kapoltabes Solo Kombes Pol Syukrani didampingi Kapolsektabes Pasar Kliwon AKP Arif Joko kepada wartawan mengatakan bahwa bentrokan yang sempat memakan korban jiwa itu bisa dilerai. ”Situasi di lokasi sudah pulih. Sejumlah orang masih dimintai keterangan,” tandasnya.

Ketika berita itu dibuat, polisi sudah menahan tujuh aktivis masjid sebagai tersangka. Sementara itu MUI terus berkoordinasi baik dengan DPRD, ormas Islam maupun polisi untuk menyelesaikan kasus ini sebaik-baiknya.

Suara Islam

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: