Berpakaian Tetapi Telanjang

20 Juni 2008 pukul 08:39 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir | 5 Komentar

Pagi-pagi, pulang dari masjid, aku menyapa seorang bapak yang berolah raga. Jalan sehat, katanya. Eh, pas aku mau neruskan pulang ke rumah, dia mengejarku. “Mas, longgar?” Tanyanya kepadaku.

“Ada apa, Pak? Aku balik tanya.

“Nggak ada apa-apa kok. Cuma tadi malem, saya kan mendatangi pengajian di RT-nan. Lha, yang jadi mubaligh menerangkan soal ciri-ciri kiamat. Katanya salah satu ciri kiamat itu adalah banyaknya wanita berpakaian tetapi telanjang. Maksud saya mau tanya, cuma malu wong bapak-bapak kok tanya seperti itu.”

“Kok Bapak nggak malu sama saya?” saya malah bingung.

“Kan cuma berdua, Mas. Jadi nggak malu saya.”

“Bapak mau tanya apa ke saya?”

“Ya, begitu Mas. Maksudnya apa kok berpakaian tetapi telanjang, gituuu.”

“Oh, begitu.”

Aku terus melanjutkan,” Bapak mau saya cerita soal itu, ya Pak?”

“Iya.”

“Kenapa Pak?”

“Mas ini muter-muter terus. Ya pengin tahu saja.”

“Mampir yuk Pak, ke rumah saya.”

“Waduh, jadi ngganggu nih, Mas.”

“Ah enggak kok, Pak. Mari.”

“Monggo, silakan duduk. Maaf cuma tikar. Kami memang tidak punya kursi tamu.”

“Ah, nggak papa Mas. Malah santai.”

“Coba saya bukakan kitab hadits dulu ya, Pak.”

“Baik, Mas.”

“Oh, ini Pak, di kitab Shohih Muslim ada begini nih,

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

……ada dua macam penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya, kaum yang membawa pecut seperti ekor sapi yang mereka mencambuki manusia, dan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang. Yang bergoyang dan menyebabkan orang bergoyang. Kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak masuk jannah dan tidak mendapati baunya, padahal baunya (jannah) itu bisa tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian. (HR Muslim)

Lalu yang berkaitan dengan tanda kiamat, setahu saya hadits ini, Pak,

حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مَيْسَرَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

….sesungguhnya sebagian dari tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, menjadi tetap (kokoh) kebodohan, dan diminum khamr, dan menjadi terang-terangan zina. (HR.Bukhari)

Lha, barangkali yang dimaksud sang mubaligh kemarin begini, Pak:

Bahwa kiamat akan ditandai kedatangannya dengan merebaknya perzinaan, yang memang dilakukan secara terang-terangan. Kalau dulu yang melakukan hanyalah orang-orang tertentu, barangkali para pelacur dan hidung belang saja, namun hari-hari ini kan sudah banyak yang melakukan. Bukan cuma mereka saja, tetapi anak-anak muda, juga anak-anak bahkan yang yang belum baligh, sampai kakek-kakek tua renta.

Dulu zina hanya dilakukan di tempat-tempat tertentu, seperti hotel berbintang atau rumah pelacuran, sekarang hampir di setiap tempat hal itu terjadi. Baik di kota ataupun di desa. Beritanya menjadi menu harian di media massa.

Tempat-tempat yang kelihatan biasa seperti warung nasi, panti pijat, karaoke, night club, cafe, bar, diskotik, dan tempat pariwisata, bahkan di makam kuno atau pesanggrahan, boleh jadi berubah fungsi menjadi tempat zina. Bahkan bisa saja tempat kost pun jadilah. Yang lebih mengagetkan lagi, saya pernah membaca berita bahwa di luar negeri, zina sudah sangat biasa dan dilakukan di tempat terbuka. Kebebasan dan hak asasi manusia, begitu mereka beralasan. Masya Allah…

Nah, barangkali juga ya, Pak. Sang mubaligh kemarin merangkaikan perkara zina tadi dengan keadaan perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang itu. Kenapa Rasulullah sas mengatakan begitu, ya karena mereka sebenarnya berpakaian, tetapi tidak memenuhi fungsi pakaian sebagai penutup aurat. Mungkin nggak lengkap, atau terlalu tipis, atau terlalu ketat seperti busana sekarang ini.

Dan parahnya ya, Pak. Banyak juga gadis-gadis muslimah yang terseret kepada keadaan ini. Mereka asyik dengan gaya jilbab gaul gitu. Pakaiannya memang komplit menutup seluruh tubuh mereka, tetapi malah menambah keseksian mereka. Berjilbab tapi seksi gitu ya, Pak. Sebab lekuk-lekuk tubuh yang ehm itu malah terbentuk sedemikian indahnya. Astaghfirullah….

Saya banyak mendapati di kalangan muslimah perkotaan, mereka memakai kaos lengan panjang yang pas dengan badan. Atau kadang dirangkap dengan t-shirt diluarnya. Terus mengenakan jilbab mungil beraneka warna dan motif yang tak sampai menutup dada-dada mereka. Lalu bawahannya digunakanlah celana jeans ketat juga, kadang ada yang belel malah. Komplitlah mereka menunjukkan lekuk-lekuk tubuhnya.

Lalu mereka pun berjalan dengan gaya khas remajanya. Langkah tegap dada membusung. Atau pantat goyang sana goyang sini. Ma’af ya, Pak, ceplas ceplos nggak sopan saya.”

“Nggak papa kok, Mas. Biar jelas sekalian.”

“Selanjutnya jadi menarik minat mata lelaki untuk terus memelototi mereka. Mereka toh cuek saja. Merasa nggak bersalah dengan gayanya. Salah yang ngeliat. Salah sendiri terpikat. Begitu kira-kira desis hatinya.”

“Begitu saja ya, Pak. Saya malu mau meneruskan.” Kataku mengakhiri ocehanku.

“Eh, Mas. Kalau dilanjutkan lagi nggak papa kan?”

“Apa lagi, Pak?”

“Yang pertama tadi kan disebut kaum yang membawa pecut seperti ekor sapi yang mereka mencambuki manusia. Itu siapa, Mas?”

“Waduh, Pak. Siapa ya…. He..he.. kira-kira lho, Pak. Mereka adalah para algojo, para penertib hukum, penegak hukum. Mungkin lho, Pak. Tapi bukan menggeneralisir lho nggih… Maksud saya misalnya jadi polisi. Kan mestinya dengan pecut (hukum) itu berusaha menegakkannya, mengawasi jalannya hukum. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Mereka yang melanggar dibiarkan saja, sementara orang-orang yang baik-baik yang tidak melanggar hukum malah dibuat seolah-olah melanggar. Tangkap dulu, undang-undang dibuat kemudian. Nah polisi yang mestinya bertanggung jawab menjaga keamanan malah berbaik arah menjadi kaum yang kejam yang mencambuki banyak orang.

Nampaknya lho, Pak. Keberadaan para penegak hukum di negeri kita sudah menunjukkan bukti ucapan Rasulullah sas tersebut. Keberadaan mereka dengan segala tindakannya, terasa lebih menyusahkan manusia terutama muslimin. Mereka sekedar menjadi alat penguasa untuk menimpakan beban di pundak muslimin di negeri ini. Kata Nabi sas mereka adalah kaum yang mengundang kemarahan Allah di waktu pagi dan laknat Allah di sore hari. Wallahu a’lam.”

“Sudah ya, Pak. Capek nih. Belum sarapan. Sekalian yuk dhahar di sini…”

“Waduh. Matur nuwun, Mas. Saya sudah kenyang dengan uraian tadi. Saya pamit saja kalau begitu. Terima kasih banyak Mas. Lain kali disambung nggak papa to?”

“Silakan, Pak.”

“Pareng. Assalamu’alaikum”

“Wa’alikumsalam.”

Ya Allah isyhad qod ballaghtu…..

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. wah semuanya bikin saya paham. cuma yang terakhir, apaan tuh? isy…isy…hadqod…bal…bal…


    kalo mau bal balan di lapangan Mas.
    Maksudnya mempersaksikan perkara ini kepada Allah. Bahwa kita sudah menyampaikan ilmu (meskipun Allah Maha Tahu).
    Priiiiit………

  2. iya tuh…banyak gadis-gadis yang sukanya pakai kaos dan celana panjang super ketat, belahan dada pendek, kalau enggak ya pakai rok yang minimnya… masya Allah..yang tentunya mengundang mata orang tuk melihat, entar kalo ada laki-laki iseng njawil and nyolek sampai berbuat keji sama dia,teriak-teriak dan menyanyi didepan aparat, emang siapa sih yang salah? dia tuh yang bikin gara-gara.

  3. saya juga mesti mampir ni Mas. kapan longgar? mo tanya juga euy…


    monggo Mbak sering sering aja. saling memberi manfaat pastinya…

  4. bener banget tuh…
    banyak cewek berjilbab tapi pakaiannya yang full pressed-body gitu…
    makanya biar ga berjilbab asal..
    tata dulu hati masing2,key???


    iya, Mbak Wenny.
    yang full pressed body biar si bemo aja ya.
    yang ok mestinya berjilbab dan memenuhi syarat syari’at dan tak bikin melarat…

  5. […] sibuk melombakan kefasikan Melalui kontes ratu-ratuan Obral aurat dijual murahan Iman dan akhlak bukan ukuran Layaknya di pasar hewan Yang dinilai hanya keelokan, […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: