Dipenjara Karena Tak Mau Lepas Jilbab
Desember 20, 2008 at 6:56 am | In politik, renungan, romantika | 8 CommentsDewan Hubungan Amerika-Islam yang bermarkas di Washington (CAIR) mendesak Departemen Kehakiman AS untuk menyelidiki sejumlah insiden yang menimpa wanita Muslimah di Georgia, tempat mereka dilarang masuk ke ruang pengadilan hanya karena memakai jilbab. Continue reading Dipenjara Karena Tak Mau Lepas Jilbab…
Gara-Gara Sepatu Terbang, al-Zaidi Dikejar Gadis Arab
Desember 20, 2008 at 6:34 am | In romantika, serba serbi | Leave a Comment
Nama Muntazer al-Zaidi tiba-tiba menjadi pemberitaan media massa lokal dan internasional, karena keberaniannya melempar sepatu ke arah Presiden George W. Bush dalam sebuah konferensi pers bersama Perdana Menteri Nouri al-Maliki di Baghdad hari Minggu kemarin. Continue reading Gara-Gara Sepatu Terbang, al-Zaidi Dikejar Gadis Arab…
Alasan Laki-Laki Nunda Nikah
November 28, 2008 at 9:03 am | In budaya, ibadah gaul, romantika | 13 CommentsNikah……jadi impian banyak orang. Bujang laki, bujang perawan, janda atau duda yang pernah merasakan, bahkan para suami yang masih beristri pun masih ada yang memimpikannya. Ah…..indah betul…. Tapi gak semua nyata man….. Meskipun pernikahan itu indah, tenyata masih banyak laki-laki yang mikir bulak balik buat ninggalin status lajangnya. Ternyata nikah itu indah tapi menakutkan… Continue reading Alasan Laki-Laki Nunda Nikah…
Nikah Bermodal Sekrup
November 1, 2008 at 6:43 am | In irodatul khoir lil ghoir, kehidupan, romantika | 7 CommentsMARNING!
Postingan ini isinya tantangan. Bagi yang gak berani gak usah baca. Apalagi kasih komentar. Awas kalo nekatz. Kualat…!!!
Bangganya Bisa Ngrebut Suami Orang
Oktober 9, 2008 at 2:33 pm | In curhat, kehidupan, romantika | 1 CommentSebenarnya gak enak kasih judul begitu. Tapi mau kasih judul lain kaya`nya gak nyambung. Salah persepsi juga entar, berabe deh…
Hari-hari gini kan banyak yang mudik to….
Tetangaku yang juga orang mudikan pernah curhat sama aku. Hari ini dia menjanda. Dikhianati suami katanya.
Wis pokoke bahasane asli gak diolah…
Sepuluh Keajaiban Dunia
Oktober 1, 2008 at 12:49 pm | In iseng, jalan-jalan, romantika, serba serbi | 3 CommentsLanjutan pe-errrr itu….
Who am I? Batin sepidelman.
Aku adalah: (berikut adalah top ten plus fact and reality show about me, dengan tingkat subyektifitas tinggi dan akurasi yang tinggi pula)
Sang Tikus Mati di Lumbung Beras
Juni 11, 2008 at 8:01 am | In curhat, ekonomi, romantika | 1 CommentTikus itu menancapkan kuku-kukunya yang tajam. Dia koyak karung beras dihadapannya. Ada beratus-ratus karung didepannya. Tapi dia tak mampu, karung beras itu buka karung beras biasa. Dia hasil penerapan teknologi modern. Ditangani oleh tenaga-tenaga asing. Cakarnya yang hanya terlatih mengoyak tanaman dan untuk saling mencakar dengan saudaranya sendiri itu tak mampu menandingi kekuatan karung asing itu.
Tiap hari pintu lumbung itu dibuka. Banyak manusia keluar masuk dari sana. Entah mereka dari mana datangnya, sang tikus tak pernah tahu. Pun terhadap kebutuhan mereka. Yang dia tahu, tiap ada yang keluar masuk, susunan karung beras ini ikut berubah. Kadang mereka mengurangi, kadang pula mereka menambah. Namun yang tikus tahu, tiap kali ada tambahan karung beras, karung itu semakin kuat saja. Bahkan beberapa hari yang lalu, sang penjaga lumbung menambah peralatan lumbungnya. Ada gantungan karung yang terayun di langit-langit lumbung. Dan beberapa jenis karung tergantung di sana. Penuh beras nampaknya. Dan dilantai lumbung pun juga dipasangi beberapa alas aneh untuk karung-karung beras.
Sang tikus semakin kesulitan. Jangankan mengoyak karung beras itu, mendekatpun semakin sulit dia lakukan. Yang tergantung pun sudah tak mungkin dia jangkau.
Memang dulu, kadang-kadang ada beras bocor dari karung-karung yang sedang dipanggul oleh kuli-kuli panggul, tapi itu tak seberapa banyak. Tak mencukupi sekedar perut tak keroncongan. Tapi semakin aneh karung beras itu, semakin tak ada kemungkinan beras bocor terjadi.
Pernah ada keinginan sang tikus untuk melarikan diri, keluar dari ruang lumbung itu. Dia akan menyelinap keluar saat pintu terbuka. Tapi sempat terlihat dari sela-sela kaki manusia yang sibuk di lumbung itu, betapa di luar sana terasa begitu asing bagi sang tikus. Belum lagi kemungkinan adanya kucing atau binatang buas lain yang akan mengancam keselamatan sang tikus. Begitulah, sang tikus selalu mengurungkan niat keluar dari lumbung.
Akhirnya dengan segenap kekuatan, sang tikus tetap berjuang, berusaha mengoyak karung beras yang aneh itu. Dan cakarnya semakin hari semakin lemah. Bahkan sebagiannya terkoyak karena semakin aus. Tak tajam lagi. Kekuatan sang tikus semakin lama pun semakin melemah.
Sampai suatu ketika dengan nafas terengah-engah, sang tikus berhenti. Tak mampu mengoyak karung lagi. Dan nafas itu semakin melemah. Dan melemah. Sampai akhirnya sang tikus pun tak mampu bernafas. Terkapar.
Sang tikus mati di lumbung beras.
He…! He….! Banguun…!!!
Sudah tidurnya!
Kulihat jam dinding menunjuk angka 14.45 WIB. Saatnya sholat ‘Ashr.
Hehh….mimpi siang yang menakutkan. Aku merasa tikus itu tak jauh dari sini. Dia ada di kanan kiriku. Atau aku sendirikah sang tikus…..???
JIN, Jenismu Kini
Juni 8, 2008 at 10:42 am | In budaya, iseng, jalan-jalan, romantika | 2 CommentsSitus Wikipedia mencatat sedikitnya ada 15 jenis hantu yang dikenal dalam mitos orang Indonesia. Mereka adalah:
1. Kuntilanak
3. Tuyul
4. Pocong
5. Genderuwo
6. Kemangmang
7. Wewe
8. Orang bunian
9. Siluman
10. Leyak
11. Rangda
12. Jin
13. Jenglot
14. Babi ngepet
15. Ipri
Beberapa dari jenis hantu ini telah difilmkan dalam berbagai versi, baik di layar tv maupun bioskop. Mulai kuntilanak, sundel bolong, tuyul, pocong, siluman, hingga kisah-kisah jin. Tidak hanya Indonesia, negara Malaysia pun beberapa kali bikin film kuntilanak, yang menurut istilah di sana disebut sebagai pontianak. Anda tinggal di Pontianak? Hi….hi….hi….hiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.
Menurutku, masih ada jin yang lupa belum dicatat, yakni jin Lee Cooper, jin Levi’s, jin Lea, dan anggota sukunya.
Dan masih ada jin yang sampai sekarang masih bebas beraksi di Indonesia, yaitu Jadan Intelijin Indonesia disingkat BIN, ehh….JIN.
Ah Bambu, Tahu Dirilah Kau…..
Juni 8, 2008 at 9:11 am | In curhat, iseng, jalan-jalan, kehidupan, politik, romantika | Leave a CommentSore belum berlalu. Tapi diri ini ingin segera berlalu. Kutinggalkan lingkungan persawahan yang terhampar hijau di hadapanku. Kukayuh sepeda butut peninggalan kakekku. Cik…cik…cik… bunyi serasi kudengar.
Tak biasanya, kali ini aku ambil jalan memutar. Kulewati sisi barat perkampungan. Banyak penduduk yang berprofesi sampingan sebagai pembuat berbagai peralatan rumah tangga dari bambu.
Thokkk…..kraaak….kraaak…..klek…..
Terdengar suara bambu dibelah. Menghiris hatiku. Kucari sumber suara. Kulihat seorang penduduk tengah asyik dengan pekerjaanya. Sangat menikmati. Barangkali terbayang dibenaknya hasil yang akan dia peroleh besoknya. Atau barangkali terngiang di telinga rengek anaknya. Pak, tas saya sudah rusak, belikan yang baru ya. Atau barangkali dia sendiri sedang merenungi tugas yang harus dia pikul. Dengan seorang istri dan beberapa anaknya di pundaknya. Ah entahlah.
Dia pegang sabit besarnya. Kokoh lengannya. Tangan kiri memegang batang bambu.
Thokkk…..kraaak….kraaak…..klek…..
Terdengar lagi suara itu. Menghiris hati.
Sabit besar menyelip di tengah batang. Dia tekan. Sabit merangsek membelah batang bambu. Kena tulang. Berhenti sesaat. Dia hentakkan sabit itu. Sabit pun semakin mendesak batang untuk berpisah. Dia letakkan sabit, kemudian dia letakkan bambu itu di tanah. Dia injak belahan bambu yang baru satu ruas itu, dan dia pegang belahan lainnya. Dia lihat masih separuh lebih badan bambu yang belum terbelah. Dia angkat belahan ditangan dan dia injak lagi belahan satunya itu. Dan, krakkk… terbelahlah bambu itu.
Dan suaranya pun menghiris hati.
Aku duduk saja. Berselonjor kaki. Kulihat orang itu. Sangat menikmati. Terlihat wajahnya. Puas.
Menyelip suara dalam hatiku. Seperti inikah negeri bambu? Negeri yang kutinggali?
Para penguasa negeri memperlakukan kami sekedar sebagai bambu? Kami yang tadinya sebagai satu batang penuh, utuh, demi kebutuhan hidup para penguasa, demi “tanggung jawab” sang penguasa negeri, sabit itu pun diletakkan pada kami. Kami para bambu ini lantas dibelah, dipisah. Satu sisi diangkat tinggi-tinggi, sisi lain diinjak-injak. Tapi akhirnya, jadilah kami keranjang-keranjang yang hanya menampung sampah-sampah penguasa.
Ah bambu, tahu dirilah kau…..
Sekedar Berkaca
Juni 8, 2008 at 7:41 am | In irodatul khoir lil ghoir, iseng, romantika | 3 CommentsKETIKA MENCARI PASANGAN
Janganlah mencari isteri saja, tapi carilah juga ibu bagi anak-anak.
Janganlah mencari suami saja, tapi carilah juga ayah bagi anak-anak.
KETIKA MELAMAR
Bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis.
Tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.
KETIKA AKAD NIKAH
Bukan menikah di hadapan penghulu.
Tetapi di hadapan Allah.
KETIKA RESEPSI PERNIKAHAN
Catat dan hitung semua tamu yang datang untuk mendoa’kan, karena harus berfikir ulang untuk mengundang mereka semua dan meminta maaf apabila berfikir untuk bercerai sehingga telah menyia-nyiakan do’a mereka.
KETIKA MALAM PERTAMA
Bersyukur dan bersabarlah.
Karena yang ada adalah sepasang anak manusia dan bukan sepasang malaikat.
SELAMA MENEMPUH HIDUP BERKELUARGA
Sadarilah bahwa jalan yang akan dilalui bukanlah bertabur bunga,
tapi juga semak belukar yang penuh onak dan duri.
KETIKA BIDUK RUMAH TANGGA BERGOYANG
Jangan saling berlepas tangan.
Justru semakin erat berpegang tangan.
KETIKA BELUM MEMILIKI ANAK
Cintailah pasangan 30% saja.
Sisanya untuk Allah.
KETIKA TELAH MEMILIKI ANAK
Jangan bagi cinta kepada pasangan dan anak.
Tetapi cintailah mereka masing-masing 100% dari 30%.
KETIKA EKONOMI KELUARGA MENYURUT
Yakinlah bahwa jalan keluar akan terbuka lebar berbanding lurus dengan tingkat ketaatan kepada Allah.
KETIKA EKONOMI BERKEMBANG
Itu hanyalah ujian dari Allah.
Jangan lupa berterima kasih kepada pasangan hidup yang setia mendampingi kita semasa menderita.
KETIKA ANDA ADALAH SUAMI
Boleh bermanja-manja kepada isteri.
Tetapi jangan lupa untuk bangkit secara bertanggung jawab apabila isteri memerlukan pertolongan.
KETIKA ANDA ADALAH ISTERI
Tetaplah berjalan dengan gemulai dan lemah lembut, tetapi selalu berhasil menyelesaikan semua pekerjaan.
Setia dan taat kepada suami.
KETIKA MENDIDIK ANAK
Jangan pernah berpikir bahwa orang tua yang baik adalah orang tua yang tidak pernah marah kepada anak.
Yang baik adalah orang tua yang jujur kepada anak ….
KETIKA ANAK BERMASALAH
Yakinilah bahwa tidak ada seorang anakpun yang tidak mau bekerjasama dengan orang tua.
Yang ada adalah merasa tidak didengar oleh orang tuanya.
KETIKA ADA PIL/WIL
Jangan diminum, cukuplah suami, isteri sebagai obat.
INGIN AMAN DAN HARMONIS
Gunakanlah formula 7K+1H:
1. Ketaqwaan
2. Kasih sayang
3. Kesetiaan
4. Komunikasi dialogis
5. Keterbukaan
6. Kejujuran
7. Kesabaran
8. Humoris
Sang Muda di Rel Kereta
Juni 7, 2008 at 1:19 pm | In curhat, jalan-jalan, politik, romantika | 2 CommentsNgueng….ngeeenngg…..brem brem… nguenggg…
Anak muda itu asyik memutar-mutar tangkai gas motornya. Dan kecepatan tinggi itu tercapai dengan segera. Lincah menyelap-nyelip di antara motor lain. Bahkan bus dan truck yang berpapasan tak membuatnya mengurangi kecepatannya.
Seratus meter di depannya, pak penjaga lintasan rel kereta terpaksa menurunkan pagar pembatas. Kereta Solo-Jakarta akan segera lewat. Dari kedua arah semua kendaraan sabar menunggu sang sepur menyapa mereka dengan peluit khasnya.
Tak demikian halnya sang anak muda. Tak sabar dia menunggu sepur lewat. Sambil memainkan gas tangan kirinya mengangkat palang rel. Dengan angkuh dan bangga dia melintas.
Ciiiiit…..brak…..krak….krak…….
Dengan anggunnya sang sepur mencium badan sang anak muda. Dengan kelembutan dan keteguhan dia menyeret badan anak muda berikut motor yang dikendarai beberapa puluh meter dari perlintasan. Badan dan motor terselip diantara roda dan rel kereta disaat sang sepur berhenti.
Woaaahhhh…
Remuk redam motor keluaran baru itu….
Sang anak muda pun tak utuh lagi badannya.
Diam….
Sesaat kemudian gempar suasana.
Yang perempuan menjerit-jerit ngeri menyaksikan pemandangan tak biasa di depan mereka. Bahkan beberapa laki-laki terpaksa memalingkan muka. Sebagian yang lain, yang memiliki keteguhan hati bergegas mendekati tubuh korban dan berlakulah apa yang mesti berlaku.
Terdengar suara,
Salah anak itu sendiri, nekat bener dia….
Goblok, sepur dilawan…
Kasihan ya anak muda itu…. anakku seumur dia…
Benar!, begitulah cara bunuh diri yang sukses. Dramatis dan heroik….
Caper kok kelewatan….
Yang salah petugas jaga perlintasan, kenapa palangnya masih bisa diangkat begitu…
Yang salah masinisnya, tahu ada anak muda nyeberang kok nggak berhenti, apa nggak punya anak dia tuh….
Salah sepurnya….
Salah relnya….
Akhirnya masinis pun diperiksa polisi. Terpaksa…. karena begitulah aturan negara. Jangankan sepur yang otot kawat tulang besi. Becak kalau nabrak pejalan kaki, tukang becaknya pasti salah. Motor nabrak penyeberang jalan yang tidak di jembatan penyeberangan, pengemudi motor yang salah. Mobil nabrak motor yang ugal-ugalan, pengemudi mobil yang salah. Truck bawa pasir nggak nabrak, tetap saja dipungut bayaran di jalanan.
Itulah aturan negara…. meski tak tertulis dalam kitab undang-undang.
Yang besar berseteru dengan si kecil, salah si besar.
Tak peduli betapa si besar sudah berhati-hati. Betapa si kecil yang ugal-ugalan.
Seperti itukah kasus si kecil AKKBB dan si besar FPI?
Paling tidak, besar karena gaungnya menyebar di seantero jagat pewayangan ini. Dan mereka juga tak sendiri. Ada HTI, Serikat Pekerja PLN dan organisasi lainnya.
Hari-hari ini, pak polisi sibuk menangapi anggota FPI. Bahkan sang pemimpin tak luput dari sergapan. Diperiksa barangkali? Atau memang sekedar memenuhi pesanan?
Bagaimana dengan para punggawa AKKBB? Anggota-anggota aliansi itu? Diapakan mereka? Atau memang mereka sudah remuk seperti sang anak muda?
Ah…..
Ideologi, Bolehkah Dipaksakan….
Juni 4, 2008 at 4:40 pm | In budaya, iseng, jalan-jalan, kehidupan, politik, romantika | 1 CommentIdeologi berasal dari kata ideos ( cita-cita ) dan logos ( ilmu ).
Ideologi selalu merupakan keyakinan bagi para penganutnya, baik dia itu berideologi secara aktif maupun pasif. Berideologi secara aktif artinya dia menganut satu ideologi tertentu, sedang pasif artinya dia tidak memihak satu ideologi tertentu. Dengan menolak semua ideologi yang ada, berarti sesorang telah berideologi secara aktif! (perhatian: tidak sama dengan orang yang tidak memihak kepada satu ideologi tertentu).
Setiap orang selalu melalui fase-fase ideologi dalam hidupnya. Dan hal ini menjadi motivasi bagi kehidupannya. Berikut adalah urut-urutan perjalanan ideologi :
1. Orang berideologi.
2. Ideologi diperjuangkan dan dikembangkan.
3. Menang, dalam arti memegang kekuasaan.
4. Ideologi dipaksakan.
Sekarang muncul persoalan yang sering menjadi perdebatan di kalangan orang banyak, yakni : bolehkah ideologi dipaksakan, atau layakkah ideologi dipaksakan?
Bolehkah di negara yang menganut faham demokrasi dilakukan gerakan anti demokrasi, misalnya dengan jalan pemaksaan kehendak dengan kekerasan?
Bagaimana dengan faham yang lain, seperti Komunis, Kapitalis, Islam, Sekuler, Humanis, Liberal, dll?
Ayah
Juni 1, 2008 at 7:28 pm | In romantika | Leave a CommentSuatu ketika, ada seorang anak perempuan bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai suara batuk-batuknya. Anak perempuan itu bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?” Demikian pertanyaannya, ketika ayahnya sedang santai di beranda.
Ayahnya menjawab, “Sebab ayah laki-laki.” Itulah jawaban ayahnya. Anak perempuan itu berguman, ” Aku tidak mengerti.”
Keningnya berkerut karena jawaban ayahnya membuatnya penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak perempuan itu, terus menepuk-nepuk bahunya, kemudian ayahnya mengatakan, “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.” Demikian bisik ayahnya, membuat anak perempuan itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak perempuan itu menghampiri Ibunya lalu bertanya, “Ibu mengapa wajah ayah menjadi berkerut merut dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?”
Ibunya menjawab, “Anakku, jika seorang laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian.” Hanya itu jawaban Sang Bunda.
Anak perempuan itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran.
Hingga pada suatu malam, anak perempuan itu bermimpi. Di dalam mimpi itu seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.
“Saat Kuciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman teduh dan terlindungi. “
“Kuciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”
“Kuberikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari anak-anaknya.”
“Kuberikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panas matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup
kedinginan karena tersiram hujan dan hembusan angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya. Itu adalah saat yang sangat membahagiakannya.”
“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan
kesakitan kerap kali menyerangnya.”
“Kuberikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat lelap tidur anak-anaknya. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan mengasihi sesama saudara.”
“Kuberikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya, istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada istri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”
“Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup di dalam keluarga bahagia dan
badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggungjawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”
“Kuberikan kepada laki-laki tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah amanah di dunia dan akhirat.”
Terbangun anak perempuan itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri kamar ayahnya yang sedang berdoa, ketika ayahnya berdiri anak perempuan itu merengkuh dan mencium telapak tangan ayahnya.
” Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah.”
“Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Allah yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ayah…”
Cinta Sebabak
Juni 1, 2008 at 11:20 am | In romantika | 2 CommentsSuatu saat aku diundang untuk mendatangi reuni di SMUN 1 Karanganyar, kotaku. Kebetulan aku memang salah satu alumninya. Panitia bilang acaranya bakalan asyik, banyak kejutan (emang listrik), selain ini memang reuni beberapa angkatan. Ya sudahlah aku berangkat dengan harapan tidak terkejut nantinya. Suka pipis kalau terkejut, he…he…he….
Sampai di sekolahku, sempat menitik air mata juga nih (sok melankolis ni ye…). Inget masa sekolah dulu. Suka ngusilin Bu Guru. Maaf ya Bu. Pernah juga harus ngepel WC gara-gara nggak ikut upacara. Inget juga pagar sebelah barat ruang kelasku, batang besinya harus bengkok karena menghormati penggunanya.
Di halaman sekolah, aku disambut dengan hangat oleh beberapa orang panitia. Aku nggak begitu kenal karena beda angkatan. Tak apalah, masih tetep hangat kok sambutannya. Aku langsung diberi petunjuk ke mana harus menuju.
Ternyata di aula sudah banyak alumni berkumpul. Rupanya datangku pas acara dimulai. Mirip tokoh utama, ya. Masya Allah, sudah jadi orang semua (emang dulunya kambing apa).
Acara terus saja mengalir tanpa kejutan berarti untukku, sampai……….
Untuk saudara tua kita, kami berikan waktu dan tempat untuk mengisi acara kita. Mas Habib, silakan.
Heh…?!?! Kok aku…. bisikku pada teman seangkatanku. Ya iya lah….sahut temanku itu.
Dengan muka macem pocongan lupa berdandan, pucet, aku berdiri dan berjalan menuju meja redaksi, eh pengisi acara.
Bener kan, kalau terkejut hobiku harus tersalurkan. Aku langsung ngacir ke kamar mandi. Kudengar di belakang heboh. Tapi, samar-samar kudengar teman seangkatanku berusaha menenangkan suasana sambil tertawa. Aku tahu pasti apa yang dia bilang ke seluruh peserta. Pasti.
Huh….lega.
Aku kembali masuk ke ruangan reuni dengan pandangan mata geli seluruh peserta. Bahkan aku rasakan foto Pak Harto dan wakilnya itu ikut tersenyum geli padaku (waktu itu presidennya kan masih dia).
Tak apalah, trik pertama sudah cukup menghibur penonton (emang lawak apa).
Aku terus duduk di samping pembawa acara. Dia terus menyampaikan apa yang harus dia sampaikan (bla….bla……bla….)
Terserah kepada Mas Habib untuk mengisi sesi berikut. Mau cerita, boleh. Mau nyanyi juga boleh. Cerita hobi, juga nggak apa-apa. Katanya dengan menahan senyum. Aku juga terenyum. Lugunya aku.
Ehm. Assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh. Bla…..bla….bla……
Jadi, sebelum saya melanjutkan omongan, saya mau tanya dulu, menurut saudari….(aku mesti lihat daftar hadir ni…) Esti…..apa pengertian cinta menurut anda….
Anu mas.
Gerrrr (ketawa bersama)
Cinta kok anu Mas, seloroh sebagian peserta.
Anu, maksudnya cinta yang saya tahu adalah getaran hati yang dirasakan seseorang ketika bertemu kekasihnya. Deg..deg…plas gitu.
Baik. Sekarang menurut saudara (lihat daftar menu lagi ah…. hadir ding) Eko. Ya….bagaimana menurut saudara?
Ee…cinta adalah cinta. Dia tidak bisa diungkapan lewat kata-kata. Dia hanya bisa dirasa. Rasa yang menguasai hati. Yang membawa hati terbang. Terbang ke atas awan ya…awan kebahagiaan. Meski kadang perih. Menghiris hati. Perih bahagia….. (mirip Rendra kalau dilihat dari jauh ni orang)
Huuuuu (mungkin teman-teman se-genk kali ya)
Baik.
Aku terus berdiri mirip Pak Parmo (guru Fisikaku dulu), tangan kusilang di punggung. Aku berjalan ke tempat peserta. Rasa pipisku sudah tak datang lagi. Aman. Aku lemparkan senyum pada seorang dara manis di sana. Berjilbab rapi.
Oh ya…. saudari, siapakah nama dan di mana rumahnya?
Yeeee……(suara gemuruh)
Awas ya, teriak salah seorang dari mereka.
Dara itu diam, nampak bingung dengan pertanyaanku mungkin. Mau jawab, takut kusamperi rumahnya. Mau nggak jawab, kok sadis gitu. Kali aja…
Pertanyaannya diganti saja, Mas. (Eh…bisa ngomong dia.)
Baik. Karena yang minta adalah seorang dara manis berjilbab, saya tak kuasa menolaknya. Pertanyaan saya ganti. Begini, saudari, dimana rumah dan siapa namamu?
Wuuuuu…….. (suara gemuruh lagi).
Tak pathak sandal sisan kae mengko (suara itu dari gerombolan si berat dekat dara manis itu).
Ee… tolong jawab namanya saja ya, seru pembawa acara menyelamatkanku.
Nama saya Latifah.
Baik. Saudari Latifah. Pertanyaan saya sama dengan yang tadi.
Weh…nekat tenan orang ini, seru gerombolan si berat lagi. He….jangan nggombal gitu dong, serunya kepadaku.
Lho, saya tidak nggombal kok. Pertanyaan saya memang belum diganti.
Begini Mas, sela dara Fatimah, cinta adalah anugerah Allah. Yang diberikan ke dalam hati hamba-hambaNya. Dengan cinta, manusia bisa menyadari keberadaanNya, bisa mengakui keagunganNya, kekuasaanNya. Dan dengan cinta pula, manusia bisa melindungi kekasihnya, berkorban untuknya. Tentunya dalam batas-batas kemanusiaannya.
Wah filosofis juga nih dara. Tidak sembarangan nih….
OK. Ada yang lain yang mau menyampaikan pandangan cintanya?
Saya, mas. Seru seorang pemuda tegap di pojok ruangan.
Baik, silakan.
Ehm. Nama saya Joko. Saya merasa, cinta adalah rasa indah yang bergelora di hati, yang berawal dari pandang mata. Orang bilang, dari mata turun ke hati, begitulah. Kira-kira mirip hati Mas ketika melihat non Latifah.
Ehm….(sok tahu ni orang).
Ya…ya…ya… (yel-yel itu keluar dari hampir semua mulut di ruangan itu)
Ma’af……ma’af…. Tolong tenang dulu, seru pembawa acara.
Bagaimana Mas Habib, kok jadi begini. Bisa anda bertanggung jawab dengan situasi seperti ini?
(tanya pake mike lagi, jadi denger semua nih)
Baik. Saya yang memulai saya pula yang mengakhiri, sahutku mirip lagu siapa itu….
Ehm.. Nona Latifah, bagaimana komentar anda?
Lho….kok ke saya? Kaget dia.
Barangkali anda bersedia memberi komentar untuk saudara Joko barusan.
Oh… ma’af. Saya tidak ada komentar.
Baik. Kalau begitu saya yang akan melanjutkan pembicaraan kita ini. Setuju?
Baik….tapi cepetan to……
Begini,
(aku mulai serius)
Cinta….
Berdasarkan subyektifitas manusia, mereka memiliki cara pandang yang sangat beragam, cara pandang mereka sendiri. Sehingga sering meninggalkan makna cinta itu sendiri. Cinta didefinisikan menurut bagaimana mereka memahaminya, bukan menurut definisi cinta itu sendiri.
Memang sejak dahulu, ahli filsafat, penyair, dan ‘ulama, banyak yang berkisah tentang perjalanan sang cinta. Tetapi mereka sendiri tak menguraikan cinta itu sendiri apa. Mereka hanya menguraikan makna cinta ketika sudah disatukan dengan kehidupan. Kehidupan dengan cara pandang mereka sendiri.
Bahkan dalam Al Qur’an sendiri tidak ada ta’rif cinta secara jelas.
Cinta, yang dalam Al Qur’an dikatakan sebagai حب , hanya disampaikan sebagai suatu perwujudan dari suatu nilai, norma, prinsip. Dimana prinsip dipandang sebagai suatu nilai yang harus dipatuhi, tidak boleh dilanggar. Prinsip bersifat mendasar dan tidak dapat disangkal karena dia sudah jelas dengan sendirinya.
Demikian Al Qur’an telah mengatur segala konsekuensi dari cinta. Dia telah mengajarkan kepada kita bagaimana kita mengelola rasa cinta. Ya…rasa. Karena cinta hanya bisa diketahui lewat rasa. Rasa yang bersemayam di dalam hati setiap hamba.
Ketika rasa cinta ini disalurkan ke tempat yang tidak semestinya. Sang pemilik hati akan terseret kepada kebinasaan. Tetapi kalau dia disalurkan pada tempat kemuliaan, maka dia akan membawa sang pemiliknya menuju derajat yang tinggi.
Dalam suatu riwayat, ada dikisahkan:
عن قتادة في قوله تعالى : ( ولا تصل على أحد منهم مات أبدا ولا تقم على قبره (سورة : التوبة آية رقم : 84) ) ، قال : أرسل عبد الله بن أبي ابن سلول ، وهو مريض إلى النبي صلى الله عليه وسلم فلما دخل عليه النبي صلى الله عليه وسلم ، قال له : « أهلكك حب يهود » ، قال له : يا رسول الله ، إنما أرسلت إليك لتستغفر لي ، ولم أرسل إليك ؛ لتؤنبني ، ثم سأله عبد الله أن يعطيه قميصه يكفن فيه ، فأعطاه إياه وصلى عليه النبي صلى الله عليه وسلم ، وقام على قبره فأنزل الله : ( ولا تصل على أحد منهم مات أبدا ، ولا تقم على قبره )
Bahwa dalam riwayat yang terdapat dala Kitab Tafsir Ash Shon’ani tersebut, Rasulullah sas mengatakan “Telah membinasakanmu (rasa) cinta(mu) kepada Yahudi”. Apakah salah mencintai Yahudi. Apakah salah dengan rasa cinta ini? Salahkah cinta?
Cinta tidak pernah salah. Cara meletakkan kecintaan itulah yang kadang salah.
Yahudi, adalah kaum yang dimurkai oleh Allah, sebagaimana kita dapati dalam banyak tafsir surat Al Fatihah. Saya ambil contoh di Kitab Fathul Qodir,
أخرج عبد بن حميد عن الربيع بن أنس في قوله : { صِرَاطَ الذين أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ } قال النبيون : { غَيْرِ المغضوب عَلَيْهِمْ } قال اليهود : { وَلاَ الضالين } قال النصارى . وأخرج عبد بن حميد عن مجاهد مثله . وأخرج أيضا عن سعيد بن جبير مثله . وأخرج عبد الرزاق ، وأحمد في مسنده ، وعبد بن حميد ، وابن جرير ، والبغوي ، وابن المنذر ، وأبو الشيخ عن عبد الله بن شقيق…..
Ketika rasa cinta kita berikan kepada orang atau obyek lain yang Allah memurkainya maka sudah pasti pula sang pemilik rasa cinta itu akan menjadi binasa karena rasa cintanya. Orang bilang, cinta itu buta.
Kita ambil contoh lainnya, yang di surat Al ‘Aadiyaat:
إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (6) وَإِنَّهُ عَلَى ذَلِكَ لَشَهِيدٌ (7) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (8) أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (9) وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (10) إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ (11)
Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya. Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya. Dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. Maka Apakah Dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha mengetahui keadaan mereka.
Dalam surat tersebut Allah memang tidak secara langsung menyebut para pencinta harta itu tercela. Tetapi Allah menyatakan bahwa kecintaan manusia kepada harta akan menggiring mereka kepada sifat kikir, bakhil, sangat ingkar, tidak tahu terima kasih.
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan keadaan ketika cinta disalahgunakan. Atau salah arah dalam meletakkan. Silakan di telusuri Al Qur’an yang 30 juz itu. Akan kita dapati betapa Allah sudah mengingati kita dengan hal itu.
Sekarang kita lihat di beberapa kitab hadits.
Dari Kitab Shohih Bukhari:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Rasulullah sas mengatakan bahwa seseorang itu tidak beriman sampai jadilah beliau itu lebih tercintai daripada cinta kita kepada anak, orang tua, atau siapa saja manusia ini semuanya.
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ مَنْ كَانَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَمَنْ أَحَبَّ عَبْدًا لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَنْ يَكْرَهُ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللَّهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ
Orang yang sudah merasakan manisnya iman itu didapati sifat atau ciri, dia itu mencintai Allah dan RasulNya melebihi selain keduanya. Dan dia mencintai seseorang karena Allah, benci juga karena Allah.
Biasalah, orang mencintai seseorang lain, maka dia akan mengikuti gaya pakaiannya, gaya bicaranya, gaya berjalannya, ikut-ikutan menyukai kesukaannya. Pokok, apapun yang menyenangkan hati sang idola, dia akan senang melakukannya. Demikian pun sebaliknya.
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
Rasulullah sas katakan bahwa seseorang itu akan bersama dengan orang yang dia cintai.
Jadilah, apabila sesorang mencintai orang-orang sholih, mencintai Nabi, maka dia akan bersama di jannah. Sebaliknya bila seseorang mencintai (karena kebutaan hatinya) orang-orang yang dimurkai Allah, jadilah dia akan bersama mereka di akhirat di dalam neraka. Na’udzu billahi min dzalika.
Dan masih banyak riwayat-riwayat yang menceritakan kepada kita perihal cinta.
Silakan buka kitab-kitab hadits yang dengan mudah kita dapatkan di toko buku.
Jadi, bila kita pisahkan kelompok manusia ini menjadi dua, yakni mereka yang proaktif, mau bertanggung jawab dengan amalannya dan kelompok kedua adalah orang yang reaktif, tidak siap bertanggung jawab dengan perbuatannya, maka:
Orang yang reaktif menjadikan cinta sebagai hasil dari kondisi yang memenuhi perasaannya. Cinta mendominasi perasaan mereka untuk kemudian menggerakkan mereka. Mereka digerakkan oleh perasaan. Inderanya terbutakan oleh cinta.
Sedang orang yang proaktif menjadikan cinta sebagai hasil dari pilihan sadar mereka berdasarkan nilai-nilai yang kemudian menggerakkan mereka. Mereka digerakkan oleh nilai, norma, prinsip. Nilai-nilailah yang menggerakkan perasaan mereka. Bagi mereka cinta adalah apa yang bisa mereka lakukan, pengorbanan yang mereka berikan. Seperti apa yang dialkukan oleh seorang ibu kepada anaknya. Cinta adalah nilai yang diwujudkan melalui tindakan. Orang ini menomorduakan perasaan sesudah nilai.
Cobalah kita perhatikan bagaimana Rasulullah sas mencintai umatnya. Mengelola cintanya. Menjadikan cintanya sebagai tindakan untuk menyelamatkan umatnya. Beliau tidak terbutakan oleh rasa cinta.
Jadi…… (hehhhh)
Aku lihat semua terdiam. Pembawa acara ternganga mulutnya. Mungkin pusing dengan uraianku barusan.
Aku langsung duduk. Masih diam. Baru beberapa saat kemudian, ada yang bersuara,
Woowww, apa itu tadi….
Ya, aku juga mumet.
Aku malah tambah bingung.
Kalau aku tambah anyel sama orang ini.
Nggak nyambung……nggak nyambung. Cinta kok jadinya ngaji. Cinta ya cinta. Kalau mau ngaji ya ke masjid sana. Wis…wis…. minum dulu.
Macem-macem respon yang muncul. Kuperhatikan dara manis berjilbab tadi. Ehm… dia tampak tercenung. Mikir kali ye……
Mikir apaan…..
Lalu, kejadian berikutnya tak menarik lagi bagiku.
Chatting dan Rumah Tangga
Mei 29, 2008 at 6:12 am | In romantika | 2 CommentsInternet memang canggih (baca:ruwet). Ia bak pedang bersisi dua yang masing-masing memiliki ketajaman sama. Ia menjadi amat bermanfaat bila si pemegang pandai menggunakan, sebaliknya ia akan jadi bumerang ketika si pengguna sembrono dengan pedangnya.
Media blog, email, chatting dan fitur-fitur lain yang tersedia gratis merangsang siapa saja untuk menjadikannya media aktualisasi diri, bahkan situs jejaring sosial semacam friendster atau yang lainnya seolah menjadikan setiap orang bebas memenuhi hasrat keinginannya untuk melakukan ekspansi sosial kemasyarakatannya. Dia bebas berekspresi dan setiap orang akan membiarkan dan menerima setiap bentuknya. Tanpa filter.
Hal ini bisa berakibat baik ketika media itu digunakan dengan tujuan baik pula. Membina bentuk masyarakat semu yang mengedepankan kejujuran, saling terbuka tanpa melampaui batas norma, saling memberi manfaat, dan inilah bentuk hubungan yang mendatangkan kebaikan. Sebagaimana Al Qur’an sudah mengatakan:
وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Bahkan hubungan yang mendatangkan kebaikan sudah menjadi kewajiban manakala kesendirian menyebabkan seseorang melakukan perbuatan yang merugikan dirinya.
Namun sebaliknya bila media internet digunakan untuk hal sia-sia, entah itu chatting atau email yang memang memerlukan interaksi aktif antara kedua pihak, maka
” لا خَيْرَ في كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إلاَّ منْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ… ” النساء: 114
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia… (QS An Nisaa:114)
Bahkan ketika cenderung untuk ma’siyat, jelas itu terlarang sebagaimana
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا (32)
Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.(QS Al Isra’: 32)
Memang yang dimaksud zina dalam ayat ini adalah sampai terjadi persetubuhan. Namun ‘ulama menganggap sudah terlarang juga hal-hal yang mengarah ke sana.
Chatting dan Keluarga.
Sekarang ini kebiasaan chatting tidak hanya dimonopoli oleh anak-anak muda. Tetapi seluruh lapisan masyarakat sudah terbiasa dengan kebiasaan satu ini. Ada yang memang untuk urusan pekerjaan, persahabatan tetapi ada juga yang menjadikannya sebagai media perselingkuhan. Dan memang banyak terjadi bahwa media chatting lebih dimanfaatkan untuk mendapatkan “kenalan” lain jenis. Bukan rahasia lagi bahwa pertanyaan pertama yang dituliskan di jendela chat adalah f/m yang menanyakan jenis kelamin lawan chattingnya. Bila didapati sama jenis, biasanya langsung permisi pamit, bahkan ada yang tanpa etika langsung menutup jendela chat. Pertanyaan berikutnya sudah bisa ditebak. Dengan sedikit basa basi percakapan langsung menjadi akrab. Bahkan lebih akrab daripada bertemu langsung lawan bicaranya.
Inilah yang kemudian memunculkan masalah baru. Bagi yang sudah berkeluarga akan menimbulkan sensasi baru dalam dirinya. Yang akan semakin menarik dirinya ke dalam jerat “perselingkuhan”. Dari perselingkuhan “semu” ini akan memunculkan keretakan hubungan keluarga yang riil. Tidak semu lagi. Tidak sedikit kasus seorang suami menjadi acuh terhadap istri tetapi menjadi lembut ketika chatting dengan “pasangan”nya. Atau seorang istri yang menjadi dingin kepada suami tetapi sangat hangat terhadap lawan chattingnya.
Memang bukan hanya media chatting yang bisa menyebabkan masalah serius dalam keluarga. Namun tak bisa dipungkiri bahwa media chatting memiliki potensi yang besar untuk menghancurkan keharmonisan rumah tangga.
Dalam kasus gangguan hubungan suami istri, mesti ada tindakan riil dan cepat tepat agar tidak berkembang menjadi perceraian. Untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul antara suami dengan isteri ada beberapa prinsip dalam ajaran Islam ini yang harus kita pegang.
Prinsip-prinsip itu adalah:
1. Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga dan atas hal ini tidak dapat dicampuri oleh siapapun tanpa ridhanya.
2. Isteri dan suami masing-masing mempunyai hak dan kemerdekaan pribadi dalam batas-batas Allah.
3. Wali dari pihak isteri maupun pihak suami mempunyai hak ishlah (hak mengurus-mendamaikan).
4. Apabila ada perjanjian sehubungan dengan pernikahan itu, maka perjanjian ini patut ditunaikan dalam batas-batas hukum Allah.
Dengan prinsip-prinsip tersebut diatas, maka setiap perselisihan atau semacamnya dalam rumah tangga itu diselesaikan menurut tingkatan-tingkatan sebagai berikut:
Tingkat Pertama :
Perselisihan itu diselesaikan dengan putusan suami yang (harus) dipatuhi oleh isteri, baik isteri merasa berat atau ringan, merasa senang atau tidak terhadap putusan tersebut.
Hal ini adalah sepenuhnya menjadi hak suami. Bisa saja terjadi dalam suatu kejadian atau keadaan apa yang dikehendaki suami berbeda dengan kehendak isteri, atau bahkan mungkin berlawanan. Misalnya perempuan itu bermaksud mendatangi familinya dalam waktu atau keadaan tertentu sedang suaminya berpendapat lain, entah karena waktunya atau karena hal lainnya lagi. Maka kata akhir persoalan ini ada pada suami, bagaimanapun keadaan dan jadinya. Atau mungkin pula hal ini menyangkut soal yang lebih besar, isteri dianggap nusyusy (melalaikan kewajiban), sesudah dinasehati dan ditinggalkan ditempat tidur tanpa ada perubahan, dipukullah isteri itu oleh suaminya. Dalam hal-hal seperti ini maka baik si isteri maupun walinya sama sekali tidak dapat menuntut dan memang tidak ada hak tuntut, karena memukul itu merupakan sebagian hak suami dalam keadaan tertentu.
Wahidie ada meriwayatkan (Asbabun Nuzul: h. 100 T. Qurthubi : j. 5 h. 168) bahwa Habibah binti Zaid al-Anshari, salah satu dari dua isteri Sa’id bin Robi bin ‘Amr berbuat nusyusy kepada suaminya (T. Qurthubi j. 5 h. 168) lantas Sa’id (suaminya) memukul mukanya. Maka datanglah Habibah ini bersama bapaknya mengadu kepada Rasulullah sas. Mula-mula Rasulullah sas menyuruh keduanya untuk mendatangi (atau mendatangkan) suaminya untuk menuntut qishshash (pembalasan). Tetapi ketika kedua orang itu beranjak hendak pergi (menuju) suaminya, Rasulullah sas memanggil keduanya karena turun wahyu tentang urusan mereka. Ternyata yang turun adalah ayat 34 dari QS. An-Nisa’; maka kemudian Rasulullah sas membatalkan qishshosh itu.
Jadi dengan adanya hak ta’dib (mendidik) ini maka hukum qishshash tidak berlaku atasnya selagi pemukulan itu dilakukan dalam rangka pelaksanaan ayat dimaksud, dan bahkan wajib atas isteri itu untuk menthaati suaminya sepanjang tidak ma’siyat.
Tingkat Kedua :
Perselisihan atau sesuatu kekhawatiran isteri di selesaikan diantara suami isteri itu sendiri.
Hal ini umumnya disebut shulh (perdamaian) yang dilakukan misalnya dengan dilepaskannya sebagian hak isteri, baik yang dilakukan sesudah musyawarah atau datang dari pihak isteri dengan keridhaannya sendiri. Ini sebagaimana firman Allah:
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (النساء: 128)
Dan jika seseorang perempuan itu khawatir suaminya melalaikan kewajiban atau berpaling (menyimpang), maka tidak ada dosa atas keduanya bahwa mereka berdua adakan perdamaian/perbaikan diantara keduanya; dan perdamaian itu (memang) baik, (karena) memang kadang-kadang diri orang itu suka kikir. Maka jika kalian berbuat baik dan taqwa, maka sesungguhnya Allah itu amat banyak khabarnya dengan apa-apa yang kalian perbuat. (QS. An-Nisa’ : 128)
Asal turunya ayat ini adalah pada perkara seorang suami yang mempunyai isteri yang sudah tua, maka si suami bermaksud mencari isteri lain lagi yang dia sukai (Al-Mannar j.5 h.446). Lalu tatkala si suami bermaksud menthalaqnya, berkata si isteri: jangan kamu thalaq aku ! tetapi gilirlah aku sekehendakmu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thurmudzi (T. Qurthubi j.5 h.403), dari Ibnu Abbas diterangkan bahwa Sauda binti Zam’ah isteri Rasulullah sas khawatir kalau beliau akan menthalaqnya; maka berkatalah dia: “Janganlah engkau menthalaqku! Tahanlah aku dan jadikanlah hari giliranku untuk ‘Aisyah! Dengan kembali pada umumnya pengertian ayat ini, maka yang diterangkan dalam perdamaian ini adalah agar masing-masing pihak menekan kekikirannya dan bertoleransi kepada pihak lainnya. Dalam hal ini mungkin si isteri kikir untuk melepaskan sebagian haknya dan kesempurnaan perlakuan baik kepadanya, sedang si suami mungkin saja kikir dalam melepas harta untuk membelanjai. Untuk itu karena sudah dinyatakan bahwa perdamaian itu baik (dan lebih baik daripada perceraian), maka setiap toleransi dalam pelepasan hak ini yang dimaksudkan untuk tercapainya perdamaian tentulah tidak akan dilewatkan begitu saja oleh Allah. Karena Allah mengetahui akan apa yang diperbuat/dikorbankan oleh hambaNya itu, maka Dia akan membalasnya! Perdamaian seperti ini disamping telah terjadi dimasa Rasulullah sas dan menyangkut pribadi beliau pula, sekaligus menunjukkan pula kepada kita bahwa meskipun prinsip dalam hukum Islam perceraian/thalaq ini diperbolehkan, tetapi dia ini merupakan jalan darurat, yang sebaiknya hanya dilakukan dalam keadaan tertentu dan dengan maksud menyelamatkan sesuatu yang lebih besar kepentingannya.
Tingkat Ketiga:
Dalam hal ini terjadi perselisihan yang sudah tidak terselesaikan atau memang tidak mungkin diselesaikan dengan cara yang sudah disebutkan dimuka, maka muslimin (atau minimal wali kedua orang suami isteri itu) hendaklah mengangkat dua orang hakim.
Al Qur’an mengatakan:
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا (النساء:35)
Dan jika kalian khawatir perpecahan diantara keduanya maka angkatlah seorang hakim dari ahlinya (lelaki) dan seorang hakim dari ahlinya (perempuan); jika keduanya bermaksud damai, Allah akan memberikan kesepakatan diantara keduanya. Sesungguhnya Allah itu adalah Maha mengetahui, amat banyak khabarnya. (QS. An-Nisa’ 4: 35)
Kedua orang hakim ini diangkat dari pihak laki-laki seorang laki-laki dan demikian pula dari pihak perempuan seorang laki-laki. Kedua orang hakim ini yang menentukan apakah pasangan suami istri ini masih perlu berusaha memperbaiki dan melanjutkan hubungan rumah tangga ataukah tidak, sudah tentu hal ini akan diputuskan setelah mendengarkan keterangan dari masing-masing pihak. Bagaimanapun situasi dan keadaannya, apabila kedua belah pihak memang mau berdamai niscaya akan terjadi kesepakatan juga berdasarkan janji dari Allah dalam ayat dimaksud. Karena besarnya tanggung jawab ini, maka hendaklah yang dijadikan hakim ini orang-orang yang mempunyai pikiran, yang faham urusan agama ini.
Tingkat Keempat:
Apabila terjadi pelanggaran-pelanggaran atau kejahatan dilakukan perempuan, sedang segala upaya yang bisa ditempuh gagal untuk memperbaikinya pada waktu-waktu berikutnya, maka suami harus menceraikan isterinya itu.
Misalnya seorang isteri tidak dapat bermanis-manis kepada mertuanya. Ketidaksenangan mertuanya ini apabila berlanjut dengan suruhan mertua kepada suaminya (=anak mertua tersebut) untuk menceraikan, haruslah dithaati oleh si suami. Demikian pula halnya bila seorang perempuan berbuat mesum/pelanggaran susila dalam keadaan tertentu.
Sebaliknya bisa pula terjadi justru pelanggaran atau kejahatan itu dilakukan oleh si suami.
Dalam pelanggaran itu dianggap membahayakan isteri dalam urusan dunia (misalnya suami suka mabuk, zina, amat kejam dsb) atau membahayakan urusan akhirat (misalnya mengajak murtad, rizqinya dari barang haram dsb), maka si isteri diperbolehkan menuntut cerai.
Di luar empat jalan yang dibataskan syara’ itu, disela-selanya sudah barang tentu boleh ditempuh upaya lain yang tidak menyimpang.
Dalam hal terjadi kerenggangan atau ketegangan diantara suami isteri, tetapi persoalannya tidak cukup besar untuk diangkat dua hakim sebagaimana maksud ayat 35 QS An-Nisa’, sedang kondisi atau situasi tertentu menjadikan pembicaraan langsung antara suami isteri tidak dapat berhasil seperti yang diharapkan. Dalam situasi begini boleh saja si isteri atau si suami (tergantung dipihak mana yang merasa dirugikan) minta tolong pihak ketiga untuk menasehati. Bisa jadi orang tua atau saudaranya, sahabatnya atau siapapun dari kalangan mereka yang diharapkan jasanya untuk memperbaiki hubungan itu.
Di masa Rasulullah saspun pernah ada kasus keharmonisan rumah tangga sebagaimana riwayat berikut:
عن عون ابن ابي جحيفة عن ابيه قال : اخى النبي صم بين سلمان وابي الدرداء فزار سلمان ابا الدرداءفرأى ام الدرداء متبذلة فقال لها: ماشانك؟ قالت اخوك ابو الدرداء ليس له حاجة في الدنيا فجاء ابو الدرداء فصنع له طعاما فقال له: كل قال: فاني صائم، قال: ما انا باكل حتى تاكل قال: فاكل فلما كان الليل ذهب ابو الدرداء يقوم، قال: نم، فنام ثم ذهب يقوم فقال: نم، فلما كان من اخر الليل قال: سلمان قم الان، فصليا،فقال له سلمان: ان لربك عليك حقاولنفسك عليك حقا ولاهلك عليك حقا فأعط كل ذي حق حقه فاتى النبي ص م فذكر ذالك فقال له النبي ص م: صدق سلمان.خ ج 3 ص ك 30- صوم باب 51 ح 1968 واللفظ له طرفه ج 8 ص ك 78 ادب ب 86 ت ج 4 ص 609 ك 37 زهد ح 341 ب 63.
Dari “Auni ibni Abi Juhaifah dari bapanya berkata: Nabi saw mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’, maka (sewaktu-waktu) Salman mengunjungi Abu Darda’ lalu dilihatnya Ummu Darda’ dalam keadaan tidak berhias maka katanya kepada Ummu Darda’ “kenapa keadaanmu ini?” berkata (Ummu Darda’) Saudaramu Abu Darda’ itu tidak punya kemauan dalam soal dunia ini! “Maka datanglah Abu Darda’ dan membuatkan makanan untuknya, kemudian katanya kepada Salman: “Makanlah (katanya) karena aku sedang berpuasa! “Berkata Salman: “saya tidak mau makan sampai engkau makan juga!” Berkata Abu Juhaifah: Maka makanlah Abu Darda’, kemudian waktu malam harinya ketika Abu Darda’ akan bangun berkata Salman: tidurlah!, maka tidurlah Abu Darda’, kemudian Abu Darda’ akan bangun lagi lalu berkata Salman: “tidurlah!” Pada waktu akhir malam berkatalah Salman: “sekarang bangunlah!” Lalu keduanyapun bangun shalat, kemudian Salman berkata kepadanya: “sesungguhnya untuk pemeliharamu itu hak atasmu! Dan untuk dirimu itu ada hak atasmu! Dan ahlimupun juga mempunyai hak atasmu! Maka berilah tiap-tiap yang mempunyai hak akan haknya!” Maka Abu Darda’ pun mendatangi Nabi saw lalu menyebutkan yang demikian itu kepada beliau maka bersabdalah Nabi saw kepadanya: “Benar Salman!”. (Riwayat Bukhari dan Thurmudzi)
Hadits ini menunjukkan betapa besar himmah (keinginan, hasrat) para shahabat kepada kemuliaan akhirat sehingga karenanya hampir saja mereka (dalam hal ini Abu Darda’) melalaikan hak isterinya. Rupanya isterinya sudah kepayahan berusaha mengembalikan hubungan mereka sebagaimana selayaknya orang bersuami isteri. Karena merasa bahwa usahanya untuk membuat dirinya selalu kelihatan cantik dimata suaminya dan usaha yang lainnya tidak bisa mengubah sikap suaminya, diapun mengambil jalan yang wajar pula. Ditinggalkannya segala perhiasan dan tidak pula berhias secara “pantas” sebagaimana layaknya seorang perempuan yang bersuami.
Dalam situasi yang demikian itu kemunculan Salman yang segera dapat “membaca” situasinya amat menguntungkan. Itulah sebabnya Salman sengaja menghalangi shalat malam Abu Darda’, setelah menerima informasi yang benar dari Ummu Darda’. Sikap Ummu Darda’ untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan suaminya kepada Salman tentulah suatu hal yang tidak keliru. Salman adalah salah seorang sahabat yang arif, alim dan sudah pula dipersaudarakan pula kepada Abu Darda’. Dan seorang seperti Salman ini banyak yang bisa diharapkan untuk menasehati orang seperti Adu Darda’. Tetapi apabila kejadian itu diceritakan kepada orang yang tidak mempunyai kefahaman ilmu, terlebih lagi kepada orang yang buruk akhlaqnya, sudah barang tentu hanya akan menambah keburukan belaka.
Hal tersebut karena ayat berikut:
” فَإنْ تَنَازَعْتُمْ في شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إلَى اللهِ وَالرَّسُولِ ” النساء: 59
…Kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)….
Diluar cara-cara yang ditentukan dalan Islam, tentulah penyelesaian suatu perselisihan itu hanya mengakibatkan kerugian, adakalanya kerugian duniawi, adapula kerugian ukhrowi, atau bahkan kedua-duanya.
Salah satu jalan yang ada kalanya juga untuk mengatasi perselisihan adalah perceraian, meskipun sering terjadi perceraian itu justru adalah tidak menyelesaikan masalah. Maka sepantasnyalah kalau perceraian itu diibaratkan seperti “pintu darurat” yang hanya dibuka dan dipergunakan dalam keadaan terpaksa, apabila jalan lain sudah tidak mungkin ditempuh.
Terlihat dari kisah Abu Darda’ tersebut, bahwa mengacuhkan istri karena urusan ibadah merupakan kesalahan. Apalagi bila itu dilakukan karena urusan pekerjaan, atau urusan dunia lainnya. Lebih-lebih lagi karena urusan chatting.
Terasa benar bahwa media yang semestinya sepele itu bisa menjadi sumber masalah yang tidak sepele. Sebagaimana orang yang terpeleset lalu jatuh terjerembab. Dia hanya terpeleset oleh kulit pisang saja,sepele, tetapi sering berakibat luka parah, tidak sepele. Tidak kita dapati orang terpeleset karena pohon pisang, karena mudah diketahui keberadaannya.
Sebenarnya ada semacam indikator bagi kita berkaitan dengan kebaikan dan keburukan.
وعن النواس بن سمعان رضي الله عنه قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم عن البر والإثم فقال: البر حسن الخلق، والإثم: ما حاك في نفسك، وكرهت أن يطلع عليه الناس رواه مسلم
Al Birr (kebaikan) adalah baiknya akhlaq seseorang, etika yang tinggi. Sedang keburukan adalah apa yang tergerak dalam diri, desiran hati yang disembunyikan dari orang lain. Dia tidak suka kalau diketahui oleh orang lain.
Maka paling baik adalah berhati-hati dan selalu ingat kepada Allah, serta meninggalkan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat kebaikan.
Wallahu a’lam.
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.






ilmu itu ada 3, Qur'an Hadits dan Faraidh. yang lain hanyalah tambahan