Kenapa Teks Proklamasi Banyak Coretan?

17 Januari 2011 pukul 13:41 | Ditulis dalam aku gak tanggung, iseng, jalan-jalan, politik, romantika, serba serbi | 13 Komentar

Begitu pertanyaan yang muncul di benakku. Saat itu aku sedang main ke rumah teman. Pas omong sana omong sini, anaknya datang menanyakan sesuatu hal berkaitan dengan pelajaran sekolahnya. Dia bawa buku sejarah. Ada gambar tiruan teks proklamasi.

Tergesa-gesakah Sukarno menuliskan teks itu?

Masa iya sih…mau ngejalanin negara kok mulainya tergesa-tega…gawat kan!

Salah tuliskah?

Itu juga tergesa-gesa dong!!!

Kalau memang salah tulis dan gak tergesa-gesa kan bisa disalin ke kertas lain, nah loh…

Biar rapi gitu…kan Sukarno tuh orangnya rapi.

Jreeennggg….

Itu tulisan sudah ada sebelumnya?

Atau Sukarno menemukan tulisan orang?

Atau lebih halus, dia niru teks orang?

Mungkin saja loh…

Wuih…gawat ini

Berarti gak orisinil dong…

Trus aku pulang…..

Penasaran masih meraja di dadaku. Berhari-hari.

Buku-buku sejarah kubuka. Situs-situs sejarah kubuka. Racik sana racik sini, rangkai sana rangkai sini.

Merangkai data ternyata menguras energi juga…

Dan akhirnya….

Bahwa sejarah adalah torehan tinta penguasa. Sejarah adalah kisah sepihak. Dan banyaknya anggapan yang menjadi keyakinan bahwa sejarah negeri ini telah dimodifikasi (untuk tidak mengatakan dimanipulasi).

Kisah ini berawal di meja perundingan Renville.

Ketika segala peristiwa kelabu menggelayuti atmosfir politik Nusantara, pada saat itu Indonesia dalam keadaan vacuum of power. Perjanjian Renville menjadikan RI hilang dari bumi Nusantara, berubah menjadi RIS, negara serikat bentukan Belanda. Sederhananya, Indonesia pindahan.  Pada saat itulah, Soekarno memerintahkan semua pasukan untuk pindah ke Yogyakarta, karena Indonesia tinggal Yogyakarta saja. Sebab daerah defacto RI pada saat itu hanya terdiri dari Yogyakarta dan kurang lebih 7 kabupaten saja (menurut fakta-fakta perundingan dengan Kerajaan Belanda, perjanjian Linggarjati tahun 1947 hasilnya defacto RI tinggal pulau Jawa dan Madura, sedang perjanjian Renville pada tahun 1948, defacto RI adalah hanya terdiri dari Yogyakarta). Seluruh kepulauan Indonesia termasuk Jawa Barat kesemuanya masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda.

Parahnya, untuk memberi legitimasi Islami, dan untuk menipu umat Islam Indonesia dalam memindahkan pasukan ke Yogya, Soekarno telah memanipuiasi terminologi Al-Qur’an dengan menggunakan istilah “Hijrah” untuk menyebut pindahnya pasukan Republik, sehingga nampak Islami dan tidak terkesan melarikan diri.

Namun S.M. Kartosuwiryo dengan pasukannya tidak mudah tertipu, dan menolak untuk pindah ke Yogya. Bahkan bersama pasukannya, ia berusaha mempertahankan wilayah jawa Barat, dan menamakan Soekarno dan pasukannya sebagai pasukan liar yang kabur dari medan perang.

Jauh sebelum kemerdekaan, yaitu pada tahun 1930-an, istilah”hijrah” sudah pernah diperkenalkan, dan dipergunakan sebagai metode perjuangan modern yang brillian oleh S.M. Kartosuwiryo, berdasarkan tafsirnya terhadap sirah Nabawiyah. Ketika itu, pada tahun 1934 telah muncul dua metode perjuangan yaitu cooperatif dan non cooperatif. Metode non cooperatif, artinya tidak mau masuk ke dalam parlemen dan bekerja sama dengan pemerintah Belanda namun bersifat pasif, tidak berusaha menghadapi penguasa yang ada. Lalu muncullah S.M. Kartosuwiryo dengan metode hijrah, sebuah metode yang berusaha membentuk komunitas sendiri, tanpa kerjasama dan aktif, berusaha untuk melawan kekuatan penjajah.

Akan tetapi, pada waktu itu metode ini dikecam keras oleh Agus Salim, karena menganggap S.M. Kartosuwiryo menerapkan metode hijrah ini di dalam suatu masyarakat yang belum melek politik. Sehingga ia kemudian berusaha menanamkan politik dan metode hijrah itu kepada anggota PSII pada khususnya. Dengan harapan setelah memahami politik, mereka mau menggunakan metode ini, karena paham politik sangat penting. Namun Agus Salim menolaknya, karena ia tidak setuju dengan politik tersebut. Menurutnya rakyat atau anggota partai hanyalah boleh mengetahui masalah mekanisme organisasi tanpa mengetahui konstelasi politik yang sedang berlangsung, dan hanya elit pemimpin saja yang boleh mengetahui. Sedangkan “hijrah” adalah berusaha menarik diri dari perdebatan politik, kemudian berusaha membentuk barisan tersendiri dan berusaha dengan kekuatan sendiri untuk mengantisipasi sistem perjuangan yang tidak cukup progresif dan tidak Islami. Faktor inilah yang menjadi awal perpecahan PSII, yaitu melahirkan PSII Hijrah yang memakai metode hijrah dan PSII Penyadar yang dipimpin Agus Salim.

Walaupun metode hijrah bagi sebagian tokoh politik saat itu terlihat mustahil untuk digunakan sebagai metode perjuangan, namun ternyata dapat berjalan efektif pada tahun 1949 dengan terbentuknya Negara Islam Indonesia yang diproklamasikan dibawah bendera Bismillahirrahmaniirrahim.

Sehingga pantaslah, jika kita tidak memperhatikan rangkaian sejarah sebelumnya secara seksama, akan memunculkan anggapan bahwa berdirinya Negara Islam Indonesia berarti adanya negara di dalam negara, karena Proklamasi RI pada tahun 1945 telah lebih dahulu dilakukan.

Namun sebenarnya jika kita memahami sejarah secara benar dan adil, maka kedudukan Negara Islam Indonesia dan RI adalah negara dengan negara. Karena negara RI hanya tinggal wilayah Yogyakarta waktu itu, sementara Negara Islam Indonesia berada di Jawa Barat dan mengalami ekspansi (pemekaran) wilayah. Daerah Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Aceh mendukung berdirinya Negara Islam Indonesia. Dan dukungan itu bukan hanya berupa pernyataan atau retorika belaka, tapi ikut bergabung secara revolusional. Barangkali benar, bahwa Negara Islam Indonesia adalah satu-satunya gerakan rakyat yang disambut demikian meriah di beberapa daerah di Indonesia.

Melihat sambutan yang gemilang hangat dari saudara muslim lainnya, maka rezim Soekarno berusaha untuk menghambat tegaknya Negara Islam Indonesia bersama A.H. Nasution, seorang tokoh militer beragama Islam yang dibanggakan hingga sekarang, tetapi ternyata mempunyai kontribusi yang negatif dalam perkembangan Negara Islam Indonesia. Dia bersama Soekarno berusaha menutupi segala hal yang memungkinkan S.M. Kartosuwiryo dan Negara lslam Indonesia kembali terangkat di kalangan masyarakat, seperti penyembunyian tempat eksekusi dan makam tokoh pergerakan Islam tersebut.

Nampaklah sekarang bahwa sebenarnya penguasa Orde Lama dan Orde Baru, telah melakukan kejahatan politik dan sejarah sekaligus, yang dosanya sangat besar yang rasanya sulit untuk dimaafkan. Karena prilaku politik yang mereka pertontonkan telah menyesatkan masyarakat dalam memahami sejarah perjuangan Islam di Indonesia dengan sebenarnya. Berbagai rekayasa politik untuk memanipulasi sejarah telah dilakukan sampai hal yang sekecil-kecilnya mengenai perjuangan serta pribadi S.M. Kartosuwiryo. Seperti pengubahan data keluarganya, tanggal dan tahun lahirnya. Semua itu ditujukan agar SMK dan Negara Islam Indonesia jauh dari ingatan masyarakat.

Sekalipun demikian, S.M. Kartosuwiryo tidak berusaha membalas tindakan dhalim pemerintah RI. Pernah suatu ketika Mahkamah Agung (Mahadper) menawarkan untuk mengajukan permohonan grasi (pengampunan) kepada presiden Soekarno, supaya hukuman mati yang telah dijatuhkan kepadanya dibatalkan, namun dengan sikap ksatria ia menjawab,” Saya tidak akan pernah meminta ampun kepada manusia yang bernama Soekarno”.

Kenyataan ini pun telah dimanipulasi. Menurut Holk H. Dengel dalam bukunya berbahasa Jerman, dan dalam terjemahan Indonesia berjudul: Darul Islam dan Kartosuwiryo, Angan-angan yang Gagal, mengakui bahwa telah terjadi manipulasi data sejarah berkenaan dengan sikap Kartosuwiryo menghadapi tawaran grasi tersebut. Tokoh sekaliber Kartosuwiryo tidak mungkin minta maaf, namun ketika kita baca dalam terjemahannya yang diterbitkan oleh Sinar Harapan telah diubah sebaliknya, bahwa Kartosuwiryo meminta ampun kepada Soekamo, dan kita tahu Sinar Harapan adalah bagian dari kekuatan Kristen yang bahu -membahu dengan penguasa sekuler dalam mendistorsi sejarah Islam.

Dalam majalah Tempo 1983, pernah dimuat kisah seorang petugas eksekusi S.M. Kartosuwiryo, yang menggambarkan sikap ketidak pedulian Kartosuwiryo atas keputusan yang ditetapkan Mahadper RI kepadanya. Ia mengatakan bahwa 3 hari sebelum hukuman mati dilaksanakan, Kartosuwiryo tertidur nyenyak, padahal petugas eksekusinya tidak bisa tidur sejak 3 hari sebelum pelaksanaan hukuman mati. Dari sinilah akhimya diketahui kemudian dimana pusara Kartosuwiryo berada, yaitu di pulau Seribu. (Kisah ini mirip dengan kasus Amrozi cs di penjara).

Usaha untuk mengungkapkan manipulasi sejarah adalah sangat berat. Satu di antara fakta sejarah yang dimanipulasi, adalah untuk mengungkap kebenaran tuduhan teks proklamasi dan UUD Negara Islam Indonesia adalah jiplakan dari proklamasi Soekarno-Hatta. Yang sebenanya terjadi justru kebalikannya.

Ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom (6 – 9 Mei 1945) S.M. Kartosuwiryo sudah tahu melalui berita radio, sehingga ia berusaha memanfaatkan peluang ini untuk sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia. Ia datang ke Jakarta bersama pasukan Hizbullah dan mengumpulkan massa guna mensosialisasikan kemungkinan berdirinya Negara Islam Indonesia dan rancangan konsep proklamasi Negara Islam lndonesia kepada masyarakat.

Sebagai seorang tokoh nasional yang pernah ditawari sebagai menteri pertahanan muda yang kemudian ditolaknya, melakukan hal ini tentu bukan perkara sulit. Salah satu di antara massa yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Sukarni dan Ahmad Soebardjo.

Mengetahui banyaknya dukungan terhadap sosialisasi ini, Sukarni dan Ahmad Soebardjo menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar mempercepat proklamasi RI sehingga Negara Islam Indonesia tidak jadi tegak. Bahkan dalam bukunya, Holk H. Dengel menyebutkan tanggal 14 Agustus 1945 Negara Islam Indonesia telah di proklamirkan, tetapi yang sebenarnya baru sosialisasi saja.

Ketika di Rengasdengklok Soekarno menanyakan kepada Ahmad Soebardjo, sebagaimana ditulis Mr. Ahmad Soebardjo dalam bukunya (Lahirnya Republik Indonesia), “Masih ingatkah saudara, teks dari bab Pembukaan Undang-Undang Dasar kita ?”

“Ya saya ingat”, saya menjawab,”Tetapi tidak lengkap seluruhnya”.

“Tidak mengapa,” Soekarno bilang, “Kita hanya memerlukan kalimat-kalimat yang menyangkut Proklamasi dan bukan seluruh teksnya”.

Soekarno kemudian mengambil secarik kertas dan menuliskan sesuai dengan apa yang saya ucapkan sebagai berikut : “Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan”.

Jika kesaksian Ahmad Soebardjo ini benar, jelas tidak masuk akal, karena kita tahu bahwa UUD 1945 baru disahkan dan disetujui tanggal 18 Agustus 1945 setelah proklamasi. Sehingga pertanyaan yang benar semestinya adalah, “Masih ingatkah saudara akan sosialisasi proklamasi Negara Islam Indonesia?”

Maka wajarlah jika naskah Proklamasi RI yang asli terdapat banyak coretan. Jelaslah bahwa ternyata Soekarno-Hatta yang menjiplak konsep naskah proklamasi Negara Islam Indonesia, dan bukan sebaliknya.

Memang sedikit sejarawan yang mengetahui mengenai kebenaran sejarah ini. Di antara yang sedikit itu adalah Ahmad Mansyur Suryanegara, beliau pernah mengatakan bahwa S.M. Kartosuwiryo pernah datang ke Jakarta pada awal Agustus 1945 bersama pasukan Hizbullah dan Sabilillah.

“Sebenarnya, sebelum hari-hari menjelang proklamasi RI tanggal 17 Agustus 1945, Kartosuwiryo telah lebih dahulu menebar aroma deklarasi kemerdekaan Islam, ketika kedatangannya pada awal bulan Agustus setelah mengetahui bahwa perseteruan antara Jepang dan Amerika memuncak dan menjadi bumerang bagi Jepang. Ia datang ke Jakarta bersama dengan beberapa orang pasukan laskar Hizbullah, dan segera bertemu dengan beberapa elit pergerakan atau kaum nasionalis untuk memperbincangkan peluang yang mesti diambil guna mengakhiri dan sekaligus mengubah determinisme sejarah rakyat Indonesia.

Untuk memahami mengapa pada tanggal 16 Agustus pagi Hatta dan Soekamo tidak dapat ditemukan di Jakarta, kiranya pertanyaan sejarah berikut ini perlu diajukan:

Mengapa Soekarno dan Hatta mesti menghindar begitu jauh ke Rengasdengklok padahal Jepang memang sangat menyetujui persiapan kemerdekaan Indonesia?

Mengapa ketika Soebardjo ditanya Soekarno, apakah kamu ingat pembukaan Piagam Jakarta?

Mengapa jawaban yang diberikan dimulai dengan kami bangsa Indonesia …?

Bukankah itu sesungguhnya adalah rancangan Proklamasi yang sudah dipersiapkan Kartosuwiryo pada tanggal 13 dan 14 Agustus 1945 kepada mereka?

Pada malam harinya mereka telah dibawa oleh para pemimpin pemuda, yaitu Soekarni dan Ahmad Soebardjo, ke garnisun PETA di Rengasdengklok, sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat kota Karawang, dengan dalih melindungi mereka bilamana meletus suatu pemberontakan PETA dan HEIHO. Ternyata tidak terjadi suatu pemberontakan pun, sehingga Soekarno dan Hatta segera menyadari bahwa kejadian ini merupakan suatu usaha memaksa mereka supaya menyatakan kemerdekaan di luar rencana pihak Jepang. Tujuan ini mereka tolak.

Laksamana Maida mengirim kabar bahwa jika mereka dikembalikan dengan selamat maka dia dapat mengatur agar pihak Jepang tidak menghiraukan jika kemerdekaan dicanangkan. Mereka mempersiapkan naskah proklamasi hanya berdasarkan ingatan tentang konsep proklamasi Islam yang dipersiapkan SM. Kartosuwiryo pada awal bulan Agustus 1945. Maka, seingat Soekarni dan Ahmad Soebardjo, naskah itu didasarkan pada bayang-bayang konsep proklamasi dari S.M. Kartosuwiryo, bukan pada konsep pembukaan UUD 1945 yang dibuat oleh BPUPKI atau PPKI.” (Al Chaidar, Pengantar Pemikiran Politik Proklamator Negara Isalam Indonesia S.M. Kartosoewirjo, hal. 65, Pen. Darul Falah, Jakarta).

Negara Islam Indonesia sendiri diproklamirkan di daerah yang dikuasai oleh Tentara Belanda, yaitu daerah Jawa Barat yang ditinggalkan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) ke Yogya. Jadi tidaklah benar kalau ada yang mengatakan bahwa Negara Islam Indonesia didirikan dan diproklamirkan di dalam negara Republik Indonesia. Negara Islam Indonesia didirikan di daerah yang masih dikuasai oleh Kerajaan Belanda.

Jadi, kenapa teks proklamasi Indonesia banyak coretan?

Rentetan dan rangkaian peristiwa sejarah ini masih menari-nari di benakku. Terpikir juga, apakah kehendak pemikiran ini salah? Adakah celah kebenaran ada di sana?

Kalau pun salah, toh skenario itu hanya dalam benakku, tak ada orang tahu….

13 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. wah wah wah ….mungkinkah ini benar???


    kalau salah sih gak masalah, kalau benar gimana hayo…

  2. Distorsi wajar dlm kenyataan sejarah.. karena ia adl cerita para pemenang :)


    sebuah kewajaran yang berbahaya ya Mas…. bahkan jahat

  3. Ya Alloh…jadi yg mana yg bener?

  4. kalo salah sih gak masalah, tapi kalo bener gimana hayo…..

  5. kang ijin copas yaak

  6. wah…kok kaya gini ceritanya…jadi mumet..mana yang benar..seandainya cerita ini benar..sangat jahat kali orang yang memanupulasi politik…biar allah saja yang membalas…kita hanya mampu nerdoa…smoga islam tetap jaya selalu…di dunia maupun di aherat…amiiiin 3x.

  7. wah…kok kaya gini ceritanya…jadi mumet..mana yang benar..seandainya cerita ini benar..sangat jahat kali orang yang memanupulasi politik…biar allah saja yang membalas…kita hanya mampu berdoa…smoga islam tetap jaya selalu…di dunia maupun di aherat…amiiiin 3x.

  8. semua punya hak buat berpendapat… bahkan dari jutaan warga Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika ini, akan bnyak muncul argumen2, dan ini salah satunya… Semua bisa saja memiliki sudut pandang yang tentunya akan berbeda-beda, tp penjabaran diatas, mnurutku masih belum mampu/kuat untuk menggeser sejarah yang ada. Masih bnyak kelemahan pada pnjabaran diaatas, aq memang tidak mampu mnunjukan mna yang benar, mna yang salah. Tp aq yakin, semua ahli2 sejarah berlomba-lomba mencari kebenaran, dan mnurutku sejarah saat ini adalah sejarah yang paling benar, karena memang belum ada yang mampu mnggeser sejarah yang suadah ada.
    Dan salah satu perubahan sejarah yang mnurutku mulai terkuak adalah sejarah G 30 S. dan tidak tertutup kemungkinan, akan lebih bnyak kebenaran sejarah yang akan terkuak.

  9. SOK TAK AJJA NIE ORG

  10. mudah sekali melihat mana yang benar dan mana yang salah, teks proklamasi soekarno tanpa Bismillah, segala ssuatu tanpa menyebut nama Tuhan pastilah hancur di akhir, lihat saja skrng pelacuran malah dilokalisasikan, minuman keras malah dibikin RUU, dan UU yg tak jelas dan hanya berdampak merugikan pda rakyat miskin, bukan pada “MEREKA” yg membuat UU dari sendiri untuk sendiri, kalau lihat teks Proklamasi S.M. Kartosuwiryo, diawali dng Bismillah, punya niatan baik untuk negara ini atas dasar keagamaan yang rahmatan lill ‘alamin, namun segelintir orang ada yg alergi dng Islam, dan pada akhirnya ya seperti ini…NKRI yg carut marut, nanti kebenaran pasti akan terungkap, mana yg subversif, dan mana yg berdaulat absolute.

  11. luar biasa… cuma aku jadi bingung… ini sebenarnya upaya pelurusan sejarah atau upaya pembengkokan sejarah…? hanya Allah yang tahu. dan mungkin waktu yang akan membuktikannya besok.

  12. Wow…keren analisanya..I like it..Izin copas ya

    -

    monggo….silakan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: