Agama Itu Mudah

25 Februari 2010 pukul 16:11 | Ditulis dalam curhat, hikmah, irodatul khoir lil ghoir | 6 Komentar

Sebenarnyalah syaithon senantiasa berusaha menggelincirkan manusia dan menyesatkan mereka dari jalan kebenaran dengan berbagai cara dan wasilah-wasilah yang tiada habisnya sampai hari kiamat. Sebagian pintu ketergelinciran telah dibukanya untuk manusia adalah mencari-cari rukhsoh-rukhsoh, pendapat yang paling ringan dari para fuqoha dan mencari-cari celah untuk berheilah dan menghindar dari ketentuan syari’at. Mereka merasa tidak melanggar syari’at meskipun mereka tidak berani mengatakan bahwa mereka telah berbuat jujur.

Maka dengan cara ini syaithon menipu banyak muslimin yang tidak berhati-hati. Sehingga hal-hal yang haram dilanggar dan hal-hal yang wajib ditinggalkan karena bergantung kepada pendapat atau rukhsoh yang bercelah. Maka jadilah orang-orang ini menjadikan hawa nafsu mereka sebagai hakim dalam masalah-masalah khilafiyah. Mereka memilih pendapat yang paling mudah dan yang paling enak menurut hawa nafsu mereka tanpa bersandar kepada dalil syar’i, bahkan karena taqlid kepada kesalahan seorang alim yang seandainya orang alim tersebut mengetahui kebenaran maka dia akan bertobat dan meninggalkan pendapatnya yang salah tersebut tanpa ragu-ragu.

Suatu kali aku mengetahui sebagian perbuatan dari sebagian mereka, lalu aku mengingkari perbuatan bodoh yang mereka lakukan, mereka pun beralasan bahwa mereka tidaklah melakukan hal tersebut berdasarkan pendapat mereka semata, tetapi ada ulama yang memfatwakan kebolehan apa yang telah mereka lakukan. Lalu mereka merasa bukanlah dari yang dimintai pertanggungjawaban, mereka hanyalah mengekor, sedangkan pertanggungjawaban adalah pada ulama yang memfatwakannya, terserah benar atau salah.

Yang aku tahu, bahkan sebagian mereka ini plin-plan, tidak konsisten. Mereka mengambil rukhsoh dari para fuqoha’ pada suatu permasalahan dan meninggalkan pendapat-pendapat mereka pada permasalahan yang lain. Macam kutu loncat, para oportunis dari kalangan muslimin. Muncul kata tanya di dadaku dan kepalaku, dimanakah keyakinan mereka berperan?

Mereka menyesuaikan antara madzhab-madzhab dan menggabungkan pendapat-pendapat. Mereka comot sana comot sini sepanjang itu menyenangkan mereka. Mereka menyangka telah melakukan amalan yang sebaik-baiknya. Yang aku tahu sejauh ini, para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak melakukan hal beginian, padahal mereka adalah umat terbaik.

Suatu kali, muncul suatu masalah pada salah seorang diantara orang-orang sembrono ini, maka dia akan pergi ke sebagian ulama yang easy going, yang mudah memberikan jawaban lagi ringan dan enak dalam berfatwa, lalu ulama ini mencarikan untuknya rukhsoh yang telah difatwakan oleh seseorang, lalu mereka berfatwa dengan rukhsoh tersebut padahal rukhsoh itu menyelisihi dalil dan kebenaran yang telah mereka yakini sendiri.

Jadilah simbiosis mutualisme (palsu) dari keadaan ini. Orang awam yang sembrono yang pergi ke ulama yang easy going dalam berfatwa. Dan ulama, mufti yang mencari keridhoan manusia sehingga tidak berfatwa dengan dalil yang benar.

Terus terang saja, hari-hari ini aku menyaksikan sebagian perkara ini. Sebagiannya adalah:

Pendapat akan bolehnya membayar zakat fitrah dengan uang.

Pendapat akan bolehnya menggunakan zakat fitrah untuk membangun masjid dan sarana lain.

Pendapat akan bolehnya menukar satu rupiah dengan dua rupiah secara kontan atau kredit (terutama mendekati hari raya dan prakteknya di pinggir jalan besar).

Pendapat akan bolehnya menikahi atau menikahkan perempuan yang hamil karena zina atau lainnya.

Pendapat akan bolehnya taat kepada orang tua yang perintahnya menjadikan seseorang terhalang dari peribadahannya kepada Allah dengan dalih birrul walidain.

Ya Allah….

Yang aku tahu, kelakuan mencari celah dalam beragama ini akan jadi berbahaya. Muru’ah akan hilang, aturan Islam akan terhina dan jadilah agama ini permainan di tangan para manusia. Haram seolah halal dan yang halal bisa jadi tabu atau diingkari.

Orang jadi biasa meremehkan agama, meninggalkan apa-apa yang telah diketahui kebenarannya kepada apa-apa yang tidak diketahui kebenarannya, terhalangnya undang-undang politik yang syar’i, amar ma’ruf nahi mungkar jadi ompong. Para hakim pun lalu berbuat sewenang-wenang dalam keputusan-keputusan hukum mereka dengan jalan berdalil dengan rukhsoh yang dia senangi dan berfatwa yang menyulitkan kepada yang dia tidak sukai. Maka tersebarlah kekacauan dan kedhaliman.

Ya Allah, kuatkan aku….

Memang ad-dinu yusrun, agama ini mudah. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berseru, yassiruu wa laa tu’assiruu…., mudahkanlah, jangan kalian persulit. Bahkan lagi Allah sudah bertitah, Allah menghendaki bagi kalian kemudahan dan tidak menghendaki bagi kalian kesusahan. Dan Dia (Allah) sekali-kali tidak  menjadikan bagi kalian dalam agama ini suatu kesempitan.

Tapi bagaimana menyikapi hal begini? Apakah orang bisa dengan serampangan memanfaatkannya?

Mudah bukan untuk di anggap remeh dan dijadikan bahan permainan dan olok-olok. Bahkan mudah adalah bahwa semua urusan agama ini, perintah dan larangan, halal dan haram, adalah terukur sebatas kemampuan manusia. Maka setiap diri yang bersungguh-sungguh dalam i’tiqodnya menjalani dinul Islam ini maka dia akan merasa mudah. Dia akan merasakan kelapangan di dada.

Bahwa perselisihan dan beda pendapat di kalangan muslimin mesti diselesaikan dengan cara yang baik. Dan dia itu adalah

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى الله وَ الرَّسُوْلِ

Maka jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kalian kembalikanlah dia itu kepada Allah dan kepada Rasul….

Sedangkan sikap orang beriman adalah

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

Sesungguhnya tiada lain ucapan orang beriman, bila mereka diseru kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukumi di antara mereka ialah “Kami mendengar dan kami patuh.”

Lalu ketika sebagian manusia enggan untuk itu dengan dalih tidak tahu atau bodoh dalam soal agama, maka dia dihukum dengan belajar dan berusaha mencari tahu dan memiliki pemahaman.

Memang di zaman ini banyak orang pinter dalam soal dunia tapi bodoh soal agama. Berlomba-lomba mencari dan menumpuk-numpuk harta namun tak peduli dengan akhiratnya sendiri. Betapa memprihatinkan…

Maka nampaklah betapa memiliki ilmu (agama) adalah wajib agar manusia bisa menjaga dirinya dari kesalahan dan dosa sehingga dia selamat dari adzab Allah.

Kita jangan sampai tertipu dengan propaganda kaum fasiq yang menjadikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

طلبُ العِلْمِ فريضَةٌ على كُلِّ مُسْلِمٍ

Mencari ilmu (adalah) wajib atas setiap orang Islam

Ini dalam urusan ilmu dunia. Mereka menjadikan dalil itu untuk menyuruh manusia belajar matematika, kimia, biologi, komputer, piano, senam, dan lainnya lagi.

Memang sebagian dari ilmu dunia itu diperlukan dan dibolehkan mempelajarinya, namun wajibnya belajar bagi muslimin adalah terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itu yang pokok, sedang yang lain adalah sekedar tambahan.

(Tulisan ini adalah sebagai bentuk aksi keprihatinan dan ikhtiar mengurangi ledakan dari apa yang tersimpan di dada)

About these ads

6 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. OK..postingan yang bagus…

  2. kadang kadang kita gak tau apa tujuan kita untuk kedepanya.

  3. yassiru wala tu’assiru

  4. Kalau agama aja dijadikan main serobot, pilih jalan yang gampang walaupun berbahaya…. apalagi yang bukan soal agama… wah… tambah parah dong!

  5. iya betul,Agama itu menyukai kemudahan…
    seperti sabda Nabi: Addinu Yusrun…

  6. ya islam itu mudah, sebenarnya islam tidak pernah mendekotomi ilmu, ilmu apa saja yang bermanfaat untuk dunia dan agama semua datang dari allah, yang mendekotomi itu orang barat, la kita ya jangan ikut ikutan to. ya blajar ilmu agama ya blajar ilmu umum juga, sya kira itu lbih baik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 41 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: