Semut S3

Mei 26, 2009 at 9:08 am | In hikmah, irodatul khoir lil ghoir, renungan | 3 Comments

Mereka berarak menyusuri sisi sisi dinding rumahku. Kompak. Bahu membahu dalam diam. Tidak. Mereka selalu berkomunikasi dengan sesamanya. Hanya aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Mungkin aku. Mungkin bukan aku.

Aku sendiri diam. Tapi menyimpan rasa kesal sekaligus penasaran. Tapi juga takjub dan lebih dari itu, malu.

Semut hitam itu. Dan juga saudaranya yang lain. Hari-hari ini banyak berkeliaran. Rumahku banyak semut. Rumah adik-adikku banyak semut. Rumah tetanggaku yang baru selesai dibangun ulang itu sudah banyak semut juga.

Lihat saja. Di bawah mejaku yang sedang kupakai nulis ini pun menjadi jalan tol bagi semut-semut yang hilir mudik. Sesekali bahkan ada yang berani naik ke atas meja. Ikut mejeng di atas tuts keyboard. Ada yang mencoba mendaki sisi printer. Ada yang berhasil berdiri gagah diatas monitor. Mau apa sih ke sana-sana?

Di belakang lemari dapur, masya Allah, mereka bahkan membangun terminal darurat untuk hasil kerja harian mereka. Di atas rak bumbu, mereka mendapat semacam jalur pintas untuk membawa hasil kerja mereka ke sarang yang rasa-rasanya ada di lantai dua rumahku.

Aku naik. Kutelusuri jalur yang hari ini kelihatan lebih ramai dari hari kemarin. Benar saja. Di balik atap rumah yang bisa dicapai dari teras lantai dua ini, aku bisa melihat kerumunan yang menutupi samar-samar sebuah lubang. Lubang bekas pengecoran yang mungkin lupa belum ditutup semen. Dan mereka sekedar memanfaatkan lahan kosong untuk markas mereka. Pusat organisasi yang sedemikian rapi.

Aku dekati markas itu. Aku lihat masih ada potongan batu bata kira-kira seluas telapak tanganku yang terselip di sudut lubang. Aku angkat. Subhanallah….banyak telur semut disitu. Calon-calon yang akan menambah kekuatan organisasi mereka. Makin banyak telur makin banyak generasi baru bermunculan. Dan itu semakin menumbuhkan kebanggaan sekaligus kekuatan dan juga tanggung jawab. Aku tahu mereka faham dengan hal-hal seperti itu dengan cara mereka sendiri. Bahkan mereka juga tahu resiko yang harus mereka hadapi sebagai konsekuensi logis terhadap hal-hal yang mereka lakukan di rumahku ini. Dan itu tanpa seijinku.

Begitulah…

Dan siang kemarin aku kedatangan seorang tamu yang juga temanku. Gadis berjilbab modis. Dia berencana mengambil S3 di Yogya sana. Passs…..

Aku melihat kaitan antara semut dan gadis ini. Entahlah, aku tak bisa menyebut kaitan macam apa itu. Tapi begitulah…

Kami mengobrol macam-macam. Istriku menemani di sampingku. Kadang bersandar di pundakku. Kami memang biasa lesehan karena memang tidak ada kursi tamu. Lebih akrab rasanya.

Sebagian obrolan itu pun menyoal semut pula. Rumahnya yang menurutku tergolong mewah pun hari-hari ini banyak semutnya. Lebih banyak bahkan, demikian katanya.

Aku bilang padanya bahwa semut itu datang ke rumahnya memang ada perlu dengannya.

Dia kaget dan tertawa. Ada perlu apa dengan saya, Mas? Begitu katanya sambil menunjukkan gigi putihnya.

Aku bilang saja terus terang. Mereka mau menyindir njenengan Mbak.

Menyindir saya?

Iya.

Kok?

Lha iya. Coba lihat kenyataan yang ada pada mereka kaum semut. Adakah yang sarjana? Sampai S3?

Hehe…..terus gimana Mas?

Mereka bilang, kalau cuman mau makan, mau hidup, gak usah sekolah tinggi-tinggi Mbak. Gak sekolahpun masih bisa makan. Kalau mau sekedar hidup sih, cukup seperti kami, begitu Mbak kata mereka.

Hahaha…..

Yang nyindir mah bukan semut tapi Mas Habib….

Nggak….bukan saya. Tapi mereka. Lihat saja tuh mereka pada brenti. Mengiyakan omongan saya.

Ah….Mas Habib bisa saja.

Oh iya Mbak. Masih kata mereka. Bangsa manusia memang diciptakan oleh Allah dengan sebagus-bagus penciptaan. Model fisik mereka paling ok. Mereka punya akal dan iman. Punya peluang menjadi lebih baik dan lebih mulia dengan akal dan imannya itu. Jadi kalau orang bersekolah tinggi-tinggi lalu digunakan untuk memuliakan diri dengan akal, ilmu dan imannya, jadilah mereka seperti itu. Jadi makhluk mulia.

Tapi kalau orang bersekolah tinggi-tinggi cuman biar dapet kerjaan mapan, jabatan tinggi, kekuasaan yang luas, lalu ujung-ujungnya duit. Wah….alangkah hinanya mereka.

Begitu kata semut itu Mbak….

Ehm……. si Mbak tamuku berdehem. Lalu dia tersenyum pada kami, terus matanya beralih ke deretan semut di dinding. Dia masih tersenyum. Dan itu aku fahami sebagai sebuah penerimaan atas opini atau kritik sang semut.

& Komentar »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

  1. emm…. no comment mawon lah… :D

    -
    lha iya….moso gak ada tulisane to Mbak……
    gimana kabar Yogya? masih karta to…….

  2. bang habib itu ada2 aja ,tp ada betulnya juga kok,seeharusnya kita bersyukur atas semua yg diberikan kpd kita, pa lagi kita ini ahksanu taqwiim,tdk spt semut yg menakjubkan tadi,mrk tak memiliki kelebihan spt yg kita miliki,meski begitu mrk bersyukur,dan yg lbh memper-y kita jg bersyukur dg apa adanya tanpa mencari yg tdk2 ,kecuali klu emank itu keperluan kita tuk mencari ridho-Nya.

  3. heuheu….semutnya canggih ya mas…?? :l0l:
    gmn kabar keluarga mas..???

    [assalamu'alaikum...]


Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.