Jumlah Takbir Sholat Hari Raya Kok Satu-Satu?

19 Desember 2008 pukul 10:40 | Ditulis dalam ibadah gaul, irodatul khoir lil ghoir, tutorial | 9 Komentar

Sebenarnya mau posting dari kemarin dulu…tapi baru enak hati hari ini. Ya sudah tak apa . Lagian gak ada istilah terlambat to buat ilmu?

Bahasan kali ini sebenarnya gak ada istimewanya. Sudah biasa dirembug orang. Jadi kalau mau brenti ngebaca, baiknya sekarang. Tapi kalau mau nekat juga gak ada dosanya kok.

Ini kisah jumlah takbir sebelum bacaan ummul kitab pada waktu sholat hari raya, baik ‘iedul fithri maupun ‘iedul adlha. Bukan ngrembug lainnya, gak pula takbir intiqol, yakni takbir saat pindah posisi badan dan gerakan.

Sudah banyak diketahui orang, kalau takbir sholat ‘ied itu yang raka’at pertama sebanyak tujuh dan yang raka’at kedua ya yang lima kali itu. That it is……

Bener kan, sudah biasa.

Sudah banyak kitab yang membicarakan soal 7 dan 5 itu. Meskipun kalau kita teliti, semua hadits yang meriwayatkan soal jumlah takbir itu dho’if. Di kitab Nailul Author ada pembicaraan yang cukup banyak dan cukup lengkap. Di kitab lain juga ada pembicaraan tentang hal ini, buka saja kitab-kitab macam Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, dan Al-Baihaqi.

Tapi yang jelas, ulama sepanjang zaman sepakat bahwa yang paling dekat kepada amalan adalah yang berjumlah 7 dan 5, berdasar (salah satunya) perkataan Imam Al-Baghawi, “Ini merupakan perkataan mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat dan orang setelah mereka, bahwa beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir pada raka’at pertama shalat ‘ied sebanyak tujuh kali selain takbir pembukaan, dan pada raka’at kedua sebanyak lima kali selain takbir ketika berdiri sebelum membaca al Fatihah. Diriwayatkan yang demikian dari Abu Bakar, Umar, Ali, dan selainnya.” Dia menukilkan nama-nama yang berpendapat demikian, sebagaimana dalam Syarh Sunnah. Lihat juga Majmu Fatawa Syaikhul Islam.

Kenapa sih kok ngrumpi jumlah takbir, gak ada kerjaan aja ni orang……

Gak juga sih, ini kan ilmu.

Lagian, hari-hari ini ada fenomena cukup menarik berkisar soal jumlah takbir sholat hari raya ini. Memang di riwayat-riwayat yang ada gak cuman 7 dan 5, tapi ada yang beda jumlah.

Lalu kenapa dipermasalahkan?

Gak juga. Cuman gimana coba kalau ada yang takbirnya satu-satu, mirip sholat biasa. Baru kan?

Nah, ini ada hal baru. Paling gak sepengetahuanku.

Pasca sholat ‘iedul adlha kemarin, aku didatangin beberapa orang yang nanya, kok imam di kampungnya sana sholatnya mirip subuhan. Biasa saja. Gak ada kekhususan seperti tahun-tahun kemarin yang pake 7 dan 5? Trus mereka tanya tentang dalilnya kepada sang imam. Dijawab oleh sang imam bahwa, dalil tentang jumlah takbir sholat ‘ied yang 7 dan 5 itu semua dlo’if, jadi kita kembalikan saja kepada hukum asal perkara sholat, jadi takbirnya kembali ke satu-satu.

Lalu orang-orang tanya lagi ke imam, kalau memang pendapat ini kuat, kenapa ulama terdahulu gak ada yang menjalankan, paling tidak membicarakan angka ini? Terus sang imam kasih jawab bahwa bilangan satu-satu itu juga fatwa ulama. Ditanya oleh orang-orang, ulama mana? Dijawab oleh sang imam, guru saya.

Apakah ulama yang guru anda itu lebih kuat dan lebih shohih ilmunya dibanding ulama terdahulu yang meskipun riwayat yang sampai ke kita ini dlo’if? Apakah begitu maksud ucapan anda wahai Mas Imam? Sergah mereka. (kebetulan imamnya masih muda)

Wallahu a’lam, jawab sang Imam muda.

Nah begitu.

Ehm…jadi berat nih msalahnya. Salah sendiri kenapa dibikin berat.

Soal jumlah takbir saja jadi perkara nih, kan berabe. Tapi kalau ngeliat sifat hukumnya sih, sholat ‘ied itu memang sunnah, gak wajib. Kalau ada beda pendapat ya masih wajar saja. Tapi kalau sampe ngepol kan berabe juga. Masa ummat terpecah belah gara-gara amalan sunnah.

Tapi kalau gak dipertahankan amalan ulama terdahulu, dimana pembelaan kita kepada orang-orang sholih pendahulu kita? Lagian yang ngeyel kan yang muncul belakangan ini. Ya kan?

Nurut sama ulama dahulu kan lebih baik. Gak usah pake aturan baru juga gak masalah kan? Lha wong sunnah ini kok dibikin berantem. Manut ulama dahulu….YESSS!!!

Aku jadi ingat ketika Hudzaifah al Yamani bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang keburukan (zaman). Dari dialog mereka ada isyarat bahwa semakin tua usia dunia ini, akan semakin berkurang bobot kebaikan. Sesudah masa kejayaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radliyallahu ‘anhum, maka zaman akan semakin gelap dan gelap. Tapi sesudah gelap itu akan muncul kembali cahaya terang, namun ada kabutnya. Begitu dan seterusnya sampe kiamat.

Jadi meskipun zaman sudah modern begini, alat-alat modern diklaim bisa menambah akurasi data dan pengamatan, namun bobot manusianya sendiri semakin berkurang. Jadinya kehebatan Rasulullah dan orang sholih zaman dulu gak bakalan didapati oleh orang sekarang. Para sahabat harus menawar kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam agar bisa khatam Qur’an tiga hari. Maunya sih setiap hari, tapi gak boleh sama beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kita? Haha…..khatam sebulan sekali juga sudah dibilang hebatzzz……

Jadi meskipun orang-orang sekarang berani mengkalim bahwa mereka sudah melakukan penelitian super teliti terhadap suatu ilmu (agama), tetapi masih tetap kalah bobot dengan ulama zaman dahulu. Nah dalam hal jumah takbir sholat ‘ied ini ngikutin aja pendapat ulama zaman dahulu. Selesai….

O iya, sekedar menghindari kemungkinan pertentangan madzhab atau bentrokan senjata dan agar tidak terjadi pertumpahan darah, ya sudah….biarkan saja angin berhembus. Biarkan saja aroma ayam panggang tetap gurih dan aroma strawberry tetap manis… Yang lebih penting adalah mengenalkan ummat terhadap konsep bahwa

الْعِلْمُ قَبْلَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ

…..kata Bukhori dalam kitab shohihnya. Yakni, bahwa ilmu itu harus dipunyai sebelum (seseorang) berucap dan berbuat. Ada alasan dan hujjah dan dalil dan argumetasi dan dasar pijakan amal dan ucapan dan dan dan……bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Begitooo….

Eh, omong-omong by the way,

Ada juga yang rasanya sependapat denganku ketika aku sempat nanya ke seseorang.

Dia bilang, kalau soal keanehan tata cara sholat ‘ied, itu juga terjadi pada sholat gerhana, juga sholat jenazah. Jadi gak aneh lagi. Jadi so what gitu loh…

Atau,

Ada teman yang seorang imam sholat ngomong gini, woalah Kang, lha wong Albani yang sedang ngetrend disini juga tujuh lima kok. Nah lo…

Atau,

Ada seorang teman yang malah tujuh dan satu. Makmumnya bingung. Ada madzhab baru, pikir mereka. Eh, pas khutbahnya dia bilang, tadi saya lupa, raka’at keduanya cuman satu thok.

Tapi, begini saja,

Timbang berantem sesama muslimin karena beda jumlah takbir, biarin saja yang mau satu-satu asal ada landasan hukumnya. Demikian pula yang tujuh lima, asal ada landasan hukumnya. Kembalinya perkara nanti biar Allah saja yang ngitung. Selesai….peace….

9 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. Wah… kudu cari tahu yang sebenarnya… nich
    Memang repot kalo memiliki agama dari warisan orang tua… dan beribadah mengikuti kebiasaan bahkan jadi budaya : sudah biasa 7 dan 5 tiba-tiba menjadi 1 dan 1. Khan bingung jadinya… Makmum tidak khusuk sholatnya… Gimana orang yang berdiri di belakang imam.. tuch. Khan, dia wajib memperingati sang Imam kalau salah baca, dst.

    Pasti seru tuch kejadian nyatanya.
    Salam
    *dah lama tidak main kesini*


    ciyapa ya kok pangling aku……

  2. trus gimana dong????????????!!!!!


    kok bingung Mas…

  3. Para ilmuwan sekarang sudah banyak mengada-ada masa sholat ‘id takbirnya tiap rokaat 1 .. Ikuti saja imam dahulu… dan atu lagi banyaknya perbedaan yang membuat perpecahan di kalangan islam adalah para ilmuwan sekarang, kalau pada zaman dahulu kalau ada perbedaan itu bukan menjadi perpecahan malah sebagai rahmat buat ummat islam… seperti kata Nabi….

  4. wahai kaum Muslimin yg budiman,tolong jangan buat orang bingung. Kalau punya ilmu ya dibagi ke masyarakat jangan malah berantem,kan biar kita sama2 tahu ‘n juga g salah pemahaman nantinya..Thank’s seblumnya & Af1 katsiir..

  5. memang ibadah itu harus ada ilmunya…biar nggak mengada2 :)

  6. itu makanya, klu nggak tau jangan malu2 bertanya, apalagi dalam urusan agama, trus klu bertanya sekalian yang jelas (pendapatnya apa, dari siapa, dalilnya apa, trus pendapat yang paling kuat yang mana).
    biar ntar waktu praktek kita benar2 tau tentang apa yang kita lakukan..:)

  7. Jika memang ada dasar yang kuat dari Rasulullah SAW, mengapa tidak, maka kita harus belajar terus dan terus, membuka dan membuka, membaca dan membaca.

  8. Ikuti ulama terdahulu? Tanpa peduli apa mereka benar atau salah?
    Taqlid buta tuh..

  9. Ampyunnnnn….harusnya ulama-ulama kita doeloe benar2 mencatat n tanya kpd guru2-nya mengapa raka’at 1 pakai 7x takbir, raka’at 2 hanya 5xtakbir semua pasti ada alasannya mengapa Rosululloh SAW mengajarkan seperti itu.
    Gaswat dah…ini sudah lebih dr 1400th yll hanya ulama ‘spesial’ yg benar2 predikat aulia saja yg pasti bisa jawab dg benarrr.
    Bukankah kita nggak boleh taklit? Nggak boleh hanya ikut-ikutan, harus paham benerrrr maksud semua gerakan2 sholat.
    Ya Alllah Ya Robb, please… berikan petunjuk untuk manusia2 zaman sekarang….


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: