Incest (Sedarah Maupun Sepersusuan) Dalam Islam

18 Oktober 2008 pukul 19:40 | Ditulis dalam irodatul khoir lil ghoir, kehidupan, serba serbi | 18 Komentar

Tidak ada satupun hal yang diharamkan Al-Qur’an yang tidak mengandung madharat (bahaya). Kalaupun dari segi tertentu manfaat bisa ditemukan, tetap saja madharat lebih mendominasi. Kalaulah madharat tersebut tidak langsung menimpa individu, ia bisa menimpa keluarga, atau masyarakat luas. Ini pula yang terjadi dalam kasus inbreeding, ah incest saja. Bahwa ada penemuan incest dipraktekkan dalam masyarakat tertentu untuk menjaga keunggulan trah (garis keturunan) dan ternyata tidak ada akibat negatif, hal itu tidak berarti bahwa secara logika incest menjadi sah-sah saja. Namun sekali lagi, tidak ada sesuatu yang diharamkan Islam yang tidak mengandung bahaya. Sehingga boleh jadi secara dlohir incest (baik karena sedarah maupun sepersusuan) bagi penjagaan galur murni ini tidak ada bahaya, namun bisa saja secara kejiwaan dan moral bisa berbahaya.

Apalagi jika dihadapkan pada agama. Semua agama tanpa dikomando menganggap praktek incest sebagai sesuatu yang terlarang. Demikian pula perasaan moral masyarakat secara kolektif – baik yang dibentuk oleh agama maupun yang dibentuk oleh akalbudi – menolak praktek ini sebagai bentuk penyaluran naluri seksual manusia. Sekalipun argumen dan pendekatannya berbeda-beda, pembahasan incest dari sudut pandang agama-agama selalu berujung pada kesimpulan yang sama : Ra Entuk !!!

Tak tahu lagi kalau ternyata ada gerakan-gerakan pembaharu (perusak) agama yang malah membolehkan bahkan mempropagandakan konsep pemicu kebinasaan ini.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالاتُكُمْ وَبَنَاتُ الأخِ وَبَنَاتُ الأخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الأخْتَيْنِ إِلا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS An Nisaa`: 23)

Dimasukkannya incest (baik karena sedarah maupun sepersusuan) dalam masalah pernikahan sesungguhnya sangat logis. Sebab, Al-Qur’an hanya mengenal pernikahan sebagai satu-satunya jalan menuju kehalalan hubungan seks. Siapa yang boleh dinikahi maka sah saja berhubungan seks. Sebaliknya siapa yang haram dinikahi maka dia tidak boleh diajak berhubungan seks, apapun alasannya! Berdasarkan logika ini maka hubungan seks sedarah atau sepersusuan baik karena zina maupun perkosaan adalah hal yang keharamannya berlapis-lapis. Incest dengan cara zina (suka sama suka) menabrak dua garis keharaman sekaligus yakni haram menikah dan haram berhubungan seks di luar nikah. Lebih dari zina, incest dengan perkosaan menabrak satu lagi garis keharaman yakni merampas kehormatan perempuan secara paksa.

Secara eksplisit Al-Qur’an memang tidak menjelaskan mengapa menikahi mahram diharamkan. Ini cara yang biasa ditempuh Al-Qur’an ketika mengharamkan sesuatu yang madharatnya mudah diketahui atau dirasakan akal sehat. Berbeda dengan keharaman khamr dan riba, misalnya, Al-Qur’an menempuh beberapa fase dan memberikan penjelasan untuk meyakinkan alasan pengharaman karena hal itu banyak dipraktekkan orang dan dirasakan ada unsur manfaatnya meski tidak sebesar madharatnya. Meskipun setelah Al-Qur’an sudah sempurna turun, khamr dan riba pun juga sempurna keharamannya, tidak lagi bertahap.

Keharaman incest (baik sedarah maupun sepersusuan) tampaknya dipandang sebagai hal yang mudah diterima akal sehat. Jadi kenapa dibuat repot?

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ أَبُو الْحَسَنِ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّهُ تَزَوَّجَ ابْنَةً لِأَبِي إِهَابِ بْنِ عَزِيزٍ فَأَتَتْهُ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنِّي قَدْ أَرْضَعْتُ عُقْبَةَ وَالَّتِي تَزَوَّجَ فَقَالَ لَهَا عُقْبَةُ مَا أَعْلَمُ أَنَّكِ أَرْضَعْتِنِي وَلَا أَخْبَرْتِنِي فَرَكِبَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ وَقَدْ قِيلَ فَفَارَقَهَا عُقْبَةُ وَنَكَحَتْ زَوْجًا غَيْرَهُ

….dari ‘Uqbah ibn Harits bahwa dia menikahi anak perempuan Ihab ibn ‘Azis. Maka datang kepadanya seorang perempuan maka (dia) berkata, “Sesungguhnya saya telah menyusui ‘Uqbah dan (perempuan) yang dia nikahi.” Maka berkata kepadanya ‘Uqbah, “Aku tidak tahu kalau engkau telah menyusuiku dan engkau tidak pula memberitahuku.” Maka (‘Uqbah) berkendara menuju Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah, maka dia bertanya kepada beliau. Maka bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bagaimana (lagi) padahal sudah dikatakan (bahwa kalian adalah bersaudara susuan)?” Maka ‘Uqbah menceraikannya (istri) dan menikahi istri (perempuan) selainnya. (HR Bukhari)

Begitulah, berdasar keterangan yang berupa pengakuan dari seorang ibu (susuan) maka pernikahan yang telah terjadi itu pun mesti dibatalkan (cerai) karena ke-mahram-an pada keduanya.

Dari kisah itu kita bisa tahu betapa dahulu mereka amat menjaga pengetahuan tentang siapa saja yang bersaudara susuan. Jadi meskipun menyusukan anak kepada orang lain adalah kebiasaan orang Arab kala itu, namun pengetahuan tentang hubungan mahram ini tetap terjaga. Sehingga ketika didapati seseorang melanggar batasan ini, ada orang yang segera memberitahukannya. Boleh jadi perempuan itu telah lalai karena tidak memberitahukan persaudaraan antara ‘Uqbah dan istrinya, namun kita bisa juga memaham bahwa dengan cara beginilah Allah hendak memberitahukan kepada kita betapa pentingnya bagi kita mengetahui hubungan kemahraman atas dasar susuan. Allah berikan shock therapi kepada kita agar tak lupa dengan kejadian ini.

Begitulah Islam. Selain perkara ibadah khas yang telah diatur sedemikian rupa, ternyata dalam hubungan antar manusia pun Islam mengatur sedemikian detailnya. Banyak hikmah dari pengaturan ini, yang salah satunya kelak terungkap lewat peran ilmu pengetahuan yang meneliti dampak buruk perkawinan sedarah atau saudara dekat yang dalam syara’ disebut sebagai mahram (orang yang haram dinikahi). Awas bukan muhrim lho. Kalau muhrim itu orang yang sedang ihrom di Baitullah.

Sekali lagi, bagaimana dengan non muslim? Apakah mereka juga mesti terkena dampak aturan Allah ini, sedangkan aturan mahram hanya ada dalam Islam?

Terserah manusia ini akan menganut agama atau kepercayaan apa pun, namun ketentuan Allah pasti akan terjadi. Bagi non muslim, selain mereka sudah meninggalkan aturan Islam (dan itu menyebabkan amalan mereka sia-sia), maka jika ada yang melakukan pernikahan yang haram ini, bertambah lagilah pelanggaran yang dilakukan dan efek buruk perkawinan yang ditinjau dari segi kesehatan pun akan terjadi. Mungkin berupa gangguan fisik atau pun jiwa.

Wallahu a’lam.

18 Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

  1. Artikel yg sangat bagus mas, Alhamdulillah semakin bertambah pengetahuan saya ttg ini semuan….


    artikelnya biasa, aturan Allah itu yang ruarrrr biasa….

  2. ibuku dan ibunya kakak beradik kandung.apakah kami diperbolehkan menikah?.Apakah kalau kami menikah termasuk sedarah?.Apakah perbuatan kami termasuk incest?.Azab apa yang kami terima jika kami melakukan pernikahan tersebut?.


    maksudnya sepupu gitu ya Mas…?
    Kalau benar sepupu mah gak papa…..no problem gitu menurut Islam…

  3. saya sempat suka pada sepupu saya.dia anak bibi saya,adik kandung bapak saya,tapi bapak gadis itu tak setuju karena katanya kalau nikah akan menyebabkan salah satu orang tua kami meninggal dan ada yang bilang kalau punya anak nanti bisa cacat.apa benar begitu ? tolong jelaskan pada saya ! terima kasih banyak atas masukannya

  4. sama sepupu mah…….maju jalan aja…. kalau kepaksa ada yang mati, ya….takdirlah namanya. gak ada hubungan sama pernikahan seseorang. mau mati, ya mati aja…..yang mau nikah ya nikah aja…gitu aja kok repot….
    (note: nikah dan mati gak ada hubungan, jadi jangan menikahi orang mati)

  5. mas,saya mau tanya.kok banyak orang bilang anak hasil pernikahan antar sepupu sedarah itu nantinya cacat baik fisik atau mentalnya,ada kelainan dibandingkan anak normal ? kalau hasilnya benar begitu,kenapa Al Qur’an tidak melarang keras pernikahan semacam ini dan malah mengijinkannya padahal dampaknya tidak baik bagi pelaku dan anaknya kelak ? malah adat yang melarang keras walaupun terkesan tak menghargai perasaan suci dan kelihatan kaku.agama kan buatan Allah yang wajib diikuti,sedangkan adat cuma budaya karena ciptaan manusia.tetapi justru seolah-olah dinomorsatukan daripada aturan agama.mungkin ini warisan lampau yang tak boleh semuanya dianggap baik dan benar mengingat tiap orang tak selalu menghadapi hal yang sama pada kenyataannya.orang dulu memang sakti tapi mereka menganggap satu kejadian dengan kesimpulan penyebab yang belum tentu tepat dan menjadikan hal itu sebagai mitos yang dipercaya secara umum dengan menelan mentah-mentah tanpa menyelidiki fakta suatu kejadian lebih dalam lagi.harap jawab pertanyaan saya di sini ya ! biar saya bisa membaca pendapat mas dan yang lain ikut mengambil hikmah atas apa yang telah terjadi.terima kasih


    yang sepupu mah…boleh-boleh saja. yang gak boleh kan yang sedarah….. sebenarnya prinsip dasarnya adalah seberapa kita mau ta’at dan tunduk kepada aturan Allah, dan seberapa ikhlash dalam kita beragama. ingat, ikhlash adalah memurnikan agama ini hanya kepada Allah, tidak musryik dan ragu-ragu dengan ketetapanNya. ikhlash bukannya tanpa pamrih loh…
    soal manusia suka othak-athik gathuk, itu kan memang kesukaannya. cuman hal begini kan harus dicermati. maksudnya melenceng pa kagak dari koridor syari’at…
    (nyambung gak ya tulisan ini…..)
    gini aja deh….
    kalo ada dalam syari’at, ada perintah, ada contoh, ada kebolehan…..kita jalani saja.
    tapi kalau ada larangannya, ya brenti saja.
    kebanyakan orang kan begini;
    mereka sudah melakukan ini dan itu, entah bener entah salah, lalu dicarikan dalil “pembenaran” dengan mengutak-atik dalil sehingga seolah-olah yang mereka lakukan itu benar.
    nah, kalo dasar amalan yang kita lakukan adalah mencari ganjaran, ya mesti dilakukan dengan cara yang meridlokan Allah, bukan dengan melanggar aturanNya. setuju kan?
    soal dunia hanya sebentar kok. sabar untuk ta’at kepada Allah kenapa juga sih? paling beberapa tahun lagi kok… sesudah itu kita akan mendapatkan hasil panen dari keta’atan itu di akhirat. semoga….insya Allah…amien….
    (sepertinya makin gak nyambung ya……)

  6. Mas saya sekarang lagi mengerjakan tugas akhir, kebetulan skripsi saya mengenai masala Inses, artikel Mas di atas sangat membantu saya dalam mengerjakn tugas akhir saya, terima kasih.
    kalo boleh tau buku/bacaan apa aja ya Mas yang membahas masalah inses menurut hukum islam dan hukum positif?…..
    Terima kasih banyak atas semua kebaikan nya semoga Allah membalasnya.amieen


    alhamdulillah kalau bisa bermanfaat.
    soal buku yang lebih detail apa ya……kurang tahu Mas…
    saya cuman baca Al-Qur’an sama hadits berikut syarahnya thok je…. itu juga cuman sebagian kecil doang…
    maaf ya….

  7. ass.wr.wb

    insya Alloh dalam waktu dekat saya akan menikah,.kebetulan juga dengan sepupu saya sendiri..
    awalnya kami berpacaran secara sembunyi2,.tetapi setelah sekian waktu berjalan alhamdulillah kami berani menyampaikan hubungan kami kpd keluarga dan alhamdulillah (meski keluarga kaget) kami mendapat restu untuk menikah..
    cuma yang masih saya bingungkan sampai saat ini adalah,.bagaimana soal keturunan kami nti..apakah akan ada hal2 yg mnj negatif yg mnimpa anak anak kami nti?semisal mgkin cacat,.atau autis atau apapun itu..
    mhn penjelasannya..dan semoga juga bs bemanfaat bagi yg mengalami kejadian serupa..
    trm kasih..
    wass.wr.wb

  8. mas hari ini saya bener2 mau gila….kalo saya di bilang saya cowok lebay yang tetep mempertahankan cinta saya tidak mau karna saya cuma ingin mengikuti sunah rosul ya salah satunya menikah, tp saya habis di maki2 kluarga saya..karna saya mau menikahi cucunya bude saya(bapak saya punya kakak perempuan dan kakak perempuannya bpk saya itu punya cucu nah cucunya kakak perempuan bapak saya itu yang pengen saya nikahi.menurut mereka hub kami kelak anak saya tidak normal dan menimbulkan malapetaka bagi seluruh kluarga saya…dan heranya semenjak saya berpacaran malapetaka datang silih berganti.pertama bpak pacar saya tabrakan kaki dan tanganya patah,kakak kandung saya tabrakan jari klingkingnya hilang,kakak ipar saya tabrakan juga tanganya patah..kakak saya yg prtama masuk rumah sakit terkena dbd..bisnis saya ga pernah lancar….saya jadi bingung semua orang menyalahkan saya….apakah itu memang kebetulan atau kualat karna tak mendengarkan nasihat orang tua atau murka allah kpada saya….tolong kasih jawaban mas saya bingung banget.terima kasih sebelumnya ..catur lastomo.



    Biasanya pacaran sebelum nikah tuh bo’ongan thok je. Kalau pacaran sehabis nikah baru tuh keren. Kalau ngliat nasabnya sih cucunya budhe ya oke saja dinikahi. Cuman orang indonesia tuh kalau urusan nikah bukan urusan laki-perempuan berpasangan doang, tapi dua keluarga besar ditambah pakdhe budhe paklik bulik pak rt bu rt juga pak lurah dan istri juga pak camat nimbrung juga. Banyak hal yang harus dinego sama mereka juga, bukan cuman sama calon mertua. Kalau soal nasihat orang tua sih wajib dituruti selama tidak ma’siyat dan ngelanggar agama. Orang tua kan begitu juga karena sayang anaknya. Sayang anak………………sayang anak…….
    Karena kita orang islam dan menikah itu urusan agama, maka sangat penting lagi wajib kalau urusan nikah dan segala hal yang ngarah ke sono mesti diatur dengan agama ini, bukan dengan adat yang seringnya malah ninggalin agama. Nyari calon bini juga mesti yang paham soal agama, kalau gak bakalan kacau deh. Capek dibelakangnya buat ngajarin biar paham.
    Eh omong omong, coba baca ini. Yang ini juga boleh. Kalau yang asyik tuh yang disini.
    Kalau aku sih gak pake pacaran. Orang tua pun senyum-senyum aja. Alhamdulillah….
    Aku nikah bukan karena urusan cinta. Bagiku nikah adalah urusan politik. Nikah adalah kendaraan politik untuk meraih tujuan yang sebenarnya…..JANNAH atau orang sini bilang SUWARGO. Harapannya sih getooo
    Udah dulu ah, maapin kalau gak berkenan

  9. saya mau tanya… Om saya menikah sama sepupu saya… Om saya ini adik kandung Bapak saya… dan Sepupu saya ini Anak dari Kaka Ibu saya atau bisa dibilang keponakan Ibu saya.. Hubungan dekat keluarga masih 1 besanan… klo dilihat dari Segi Agama dan Adat syah ga ya???


    itu mah…..om ipar sama keponakan ipar….ipar tuh sudah orang lain. bukan mahram….oke lah yau

  10. ass.wr.wb
    sy mau tanya mas.. sy punya pcr blh d blng msh keluarga.. awalnya jg kami berpacaran secara sembunyi2,.tetapi setelah sekian waktu berjalan alhamdulillah kami berani menyampaikan hubungan kami kpd keluarga cmn ibu sy yg setuju tp lw oma sy ngk setuju katanya msh ad hubungan sedarah mas.. begini mas opanya pacar saya saudara kandung dengan opa ku trus opaku itu punya anak namanya jaku aneta trus jaku itu punya anak lg namnya asni aneta trus asni punya anak lg yaitu aku feri maha…
    kemudian klw kelahiran opanya pacar aku sy tdk tau.. TRUS mamanya pacar sy tu sy d blng kamanakanya/keponakan.. trus mamaku itu msh sepupu dgn pacar saya tiu mas.. TRUS APA BOLEH KT PACARAN…?? KLW DLM HUKUM ISLAM.. KT UD 6 BLN PACARAN MAS.. OMA SY TIU MELARANG KT PACARAN KARNA MSH SEDARAH :(( TRUS APA YG HARUS SY LAKUKAN ?? PUTUSIN DY NGK MUNGKIN KARNA AKU UD TERLANJUR SAYANG SAMA PACAR SAYA MAS.. ADKAH HADITS YG MEMBOLEHKAN KT PACARAN ?? TOLONG YA MAS JAWABANYA SAYA TUNGGU SECEPAT MUNGKIN.. wass.wr.wb


    coba deh dibaca ulang pelan-pelan…..udah ada jawaban kan sebenarnya. tinggal bikin skema aja agar lebih mudah. soal pacaran menurut Islam, coba cari di blog ini, ada kok tulisan yang ngebahas soal pacaran secara praktis dan manis juga gaul tapi mengena…..hehe

  11. ass.wr.wb..
    mas, saya sedang mengerjakan tugas akhir yang berkaitan dengan perkawinan sedarah (incest). Apa mas bisa membantu saya dengan merekomendasikan literatur2 yg dapat saya jadikan referensi untuk skripsi saya? terima kasih


    wa’alaikumsalam wa rahmatullahi wa barakatuh.
    saya sudah kirim email ke anda. cek ya

  12. ass.wr.wb
    sudah sekian lama saya pacaran dengan anak dari istri bapak saya yang lain, hubungan kami sangat serius dalam berpacaran dan saya hannya anak lahir tanpa nikah.. apakah kami bisa nikah??????

    saudara sebapak itu mahram….

  13. SaYa itu pcaran kn pacaraN sma ya boleh di bilang sppu sya sendiri (ibux mma aq dgn ibux mma dia tuch adc kakak) .. pertaxaan saya .. msih bolehkah kmi berpacaran, karena kata bpak saya , jika kami menikah , ank kmi nntinya akan cacat , benarkah itu ???


    kalau menikah dengan sepupu sih ga papa tuh… tapi kalo soal pacaran coba deh baca yang INI atau yang INI atau yang lainnya lagi….

  14. mas.. salah satu syarat penting sepersusuan tuh kan harus satu agama kan ya? karna yg non-muslim memakan makanan yg diharamkan islam, lalu adakah dalil yg menyatakn hal ini?
    saya memerlukannya untuk penulisan saya..
    terima kasih banyakk..


    Sejauh ini saya belum mendapati dalil qoth’i yang melarang menyusukan anak kepada orang kafir. (barangkali ada yang sudah mendapatkan, tolong diinfokan ya…).
    Namun bila dilihat dari arah lain, tentunya kita perlu berpikir ulang dan memikir lagi untuk melakukan hal itu. Kita bisa lihat betapa banyak ayat atau hadits yang menunjukkan betapa berbahayanya bila kita menyerahkan kepercayaan kepada orang kafir.
    Coba kita timbang menurut untung ruginya (secara syar’i loh, bukan secara ekonomi);
    Pertumbuhan bayi juga ditentukan oleh kualitas ASU (air susu umi) yang dikonsumsi, dulu kan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar bayi tidak disusukan pada orang yang lemah pemikirannya karena akan membawa pengaruh pada dirinya. ASU dari orang yang buruk akhlaqnya akan mengakibatkan terjadinya pewarisan mental yang tidak baik pada bayi loh. Entar kalau kita serahkan anak kita untuk disusui orang kafir, trus anak kita ikut ketularan kafir gimana hayo….na’udzubillahi min syarri dzalika…
    Bahkan kalau kita lihat sikap yang diambil para orang sholih jaman dulu, kita dapati mereka memakruhkan seorang bayi menyusui ASU wanita musyrik atau wanita yang berma’siyat. Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Aziz berkata bahwa penyusuan itu akan membawa pengaruh, maka janganlah menyusui dari orang yahudi, nasrani dan penzina dan juga tidak dari golongan dzimmy karena asi dari pelaku ma’siyat dapat saja mendorong bayi tersebut untuk melakukan kema’siyatan di kemudian hari, bahkan menyusui dari orang musyrik bisa saja membawa anak kita cenderung kepada agamanya. Na’udzubillahi min dzalika…
    Wallahu a’lam

  15. assalamuallaikum, saya mau tanya, kake saya punya dua istri, istri yang pertama bernama risah, dari istri pertamanya itu punya anak perempuan namanya yati dan yati itu ibu kandung saya, nama saya mulyaman ( laki-laki ). istri kedua kake saya bernama minah dan dari istri yang keduanya itu punya anak perempuan juga bernama asih. ibu asih itu punya anak peremuan namanya nurul. saya dan nurul itu berpacaran, sudah hampir tiga tahun malah tapi orang tua kami tidak mengetahui, dan sekrang saya ingin lanjut ke hubungan yang syah ( menikah ), yang mau saya tanyakan apakah pernikahannya akan menjadi haram kalau di lakukan, karna faktor kake yang sama, tolong jawab dan jelasin ya saya bingung, trimakasih

    wa’alaikumsalam….
    singkat cerita, mas Mulyaman Z naksir saudara sepupu….. silakan. saudara sepupu mah boleh dinikah. tapi mestinya hubungan yang ma’ruf itu dilakukan dengan cara yang syar’i. tidak berkholwat. dengan ridlo orang tua. dst…

  16. assallamuallaikum mas,,saya mau tanya-tanya dikit nih!nenek saya mempunyai adik,dan adik nenek saya ini memliki cucu,,jadi singkatnya cucu ketemu cucu gitu mas. nah apabila saya menikahi cucunya adik dari nenek saya itu,,apakah diperbolehkan di dalam islam,klo bisa berikut dengan surat ato hadistnya mas.mohon jawabannya mas..terimakasih.

    wa’alaikumsalam…
    beda kakek/nenek… ini nih sepupu jauuuh… lebih jauh dari kasus mas Mulyaman Z… dari artikel yang dibaca mestinya sudah cukup.

  17. mu nanya ne saya laki-laki salah satu keponakan perempuan saya,anak dari saudara sepupu perempuan saya yang dari garis keturuna ayah ingin menikah dgn saya hukumnya sah atau haram tolong di jawab ya terima kasih

  18. om.. saya mau tanya, klo menikah dgn saudara yg se’ibu tpi laen ayah hram gx hkumnya ??
    cz,ada tetgga ku yg udah 1thn menikah..(incest)

    ini mah sodara yang lahir dari rahim yang sama… jelas gak boleh ya


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: