Teroris Versi Amerika Stress Amerika

24 Juli 2008 pukul 08:20 | Ditulis dalam politik | Tinggalkan komentar

Mau Promosikan Islam Malah Dituduh Teroris.

Kelompok-kelompok garis keras di AS menentang rencana sebuah organisasi Muslim Amerika yang akan menggelar kampanye tentang Islam selama bulan Ramadhan. Kelompok-kelompok itu menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk baru serangan teroris di Amerika.

Islamic Circle of North Amerika-salah satu wadah warga Muslim Amerika-rencananya akan menggelar kampanye damai untuk memberikan informasi tentang Islam yang sebenarnya dan informasi tentang sosok Rasulullah Muhammad Saw, yang selama ini banyak disampaikan secara bias oleh media-media massa Barat. Kampanye itu dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan yang jatuh bulan September mendatang.

Mereka akan membuat poster-poster iklan tentang Islam serta tentang Nabi Muhammad Saw yang akan dipasang di jalur-jalur kereta bawah tanah di New York City sepanjang bulan Ramadhan.

Namun sejumlah kelompok di AS menentang kegiatan itu. Mereka mengatakan, promosi keIslaman yang dilakukan bertepatan dengan bulan saat terjadinya serangan 11 September yang menghancurkan menara kembar World Trade Center di New York, merupakan bentuk baru serangan teroris ke negara AS.

Stasiun Televisi Iran Dimasukkan Dalam Daftar Organisasi Teroris.

Anggota legislatif AS, Gus Bilirakis meminta agar Resolusi DPR AS nomor 1308 yang memuat daftar saluran televisi yang dianggap sebagai teroris diperluas cakupannya. Bilirakis meminta sejumlah saluran televisi baru dimasukkan ke dalam daftar tersebut.

Saluran TV yang diusulkan Bilirakis antara lain, saluran televisi Iran Press TV dan Al-Alam. Ia menilai kedua stasiun televisi itu masuk dalam katagori organisasi-organisasi teroris atau yang oleh AS disebut dengan istilah “Specially Designated Global Terrorist” (SDGT)

Resolusi 1308 diberlakukan sejak 26 Juni lalu untuk lembaga-lembaga penyiaran di Timur Tengah yang oleh DPR AS dianggap menghasut orang agar melakukan kekerasan terhadap AS. Dan menurut Bilirakis, stasiun-stasiun televisi Iran masuk dalam katagori itu karena menyiarkan liputan-liputan tentang aksi unjuk rasa dan pidato-pidato dari pada pemimpin, ulama, anak-anak dan pemirsa di Iran yang mengutuk Amerika.

“Mereka mengatakan ‘Death to America’ dan menyiarkan pernyataan-pernyataan yang mendorong orang melakukan tindak kekerasan terhadap orang-orang Amerika, ” kata Bilirakis.

Ia beralasan, jika jaringan-jaringan lembaga penyiaran semacam itu tidak dihentika, bisa mengakibatkan makin meningkatnya resiko radikalisasi dan perekrutan warga Amerika ke dalam organisasi-organisasi teroris.

Press TV, stasiun televisi berbahasa Inggris milik Iran, menjadi stasiun televisi yang cukup diperhitungkan dalam liputan-liputan berita dan acara-acara dialognya, antara lain acara Four Corners, Middle East Today dan Fine Print. Stasiun televisi ini juga memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengutarakan pandangannya yang berbeda dengan pandangan pemerintah Iran. Para narasumber yang dihadirkan juga berimbang, mulai dari mereka yang pro-AS dan tokoh-tokoh yang berseberangan dengan pemerintah Iran.

Tindakan AS memasukkan stasiun televisi Iran ke dalam kelompok organisasi teroris berdasarkan Resolusi 1308, dipastikan akan menuai kecaman dari berbagai organisasi hak asasi manusia. Mereka sejak lama menganggap Resolusi sebagai contoh nyata dari kebijakan sensor AS yang melanggar prinsip kebebasan berbicara.

Dari dulu,

Negara Amerika Serikat tak henti-hentinya berupaya memojokkan negara Iran. Pemerintah AS membenarkan bahwa pihaknya akan menetapkan Pasukan Garda Revolusi Iran-pasukan elit Iran-sebagai kelompok teroris.

Sejumlah analis mengatakan, tindakan AS itu menunjukkan betapa frustasinya AS karena gagal menghentikan program nuklir Negara Para Mullah itu. Sementara kementerian luar negeri Iran menyebut rencana AS tersebut sebagai “propaganda yang sia-sia. “

Pengamat masalah Iran Trita Parsi mengatakan, rencana AS memasukkan pasukan elit Iran dalam daftar kelompok terorisme, bersamaan waktunya saat pemerintahan Bush meminta bantuan Iran untuk menstabilkan situasi di Irak. Ini artinya, proses diplomasi AS dengan Iran tidak akan sukses, karena pada saat yang sama AS menetapkan partner diplomasinya sebagai teroris.

Dengan memasukkan Pasukan Garda Revolusi Iran ke dalam daftar kelompok teroris, maka pemerintahan Bush dengan leluasa bisa membatasi bisnis, termasuk melarang perusahaan-perusahaan yang bukan berasal dari AS untuk berbisnis dengan berbagai institusi keuangan milik pasukan elit Iran tersebut.

Pemerintah Bush rencananya secara formal akan menetapkan Pasukan Garda Revolusi Iran sebagai kelompok teroris, sebelum pertemuan Dewan Umum PBB bulan September mendatang.

Dalam pertemuan itu, AS juga berniat untuk mendesak Dewan Keamanan agar menyiapkan resolusi baru buat Iran, karena menolak menghentikan pengayaan uraniumnya. Meskipun, rencana itu kemungkinan akan mendapat hambatan dari China dan Rusia.

Rencana AS memasukkan pasukan elit Iran ke dalam daftar terorisnya, baru kali ini dilakukan AS. Sebelumnya, AS sudah memasukkan sejumlah individu, organisasi sosial, perusahaan dan organisasi massa ke dalam daftar kelompok terorisnya, antara lain Hizbullah, al-Qaidah, Hamas dan Jihad Islam.

AS Danai Kelompok Jundullah untuk Ganggu Stabilitas Iran

Mantan Kepala Angkatan Bersenjata Pakistan, Jenderal Mirza Aslam Baig mengungkapkan peran AS dalam upaya mengganggu stabilitas di dalam negeri Iran. Pensiunan Jenderal itu mengatakan, AS memberikan bantuan pada Jundullah, salah satu kelompok yang didanai AS mengganggu ketentraman negara Iran.

Jundullah adalah kelompok teroris yang dipimpin oleh Abdolmalek Rigi dengan wilayah operasi di Baluchistan Iran dan Baluchistan Pakistan. Menurut Jenderal Baig, AS menyediakan fasilitas latihan untuk anggota kelompok Jundullah di kawasan timur Iran. Tugas kelompok itu adalah mengganggu stabilitas negara Iran dan hubungan antara Iran dan negara tetangganya, Pakistan.

Lebih lanjut Jenderal Baig seperti dilansir surat kabar Pakistan Daily mengungkapkan bahwa agen-agen intelejen dari pasukan koalisi pimpinan AS sangat aktif di Afghanistan dan melakukan berbagai upaya untuk menimbulkan kekacauan di Iran, Pakistan, China dan wilayah Rusia.

“Iran dan Pakistan saat ini dalam kepungan konspirasi negara-negara Barat, ” tukas Jenderal Baig.

Oleh sebab itu, Baig setuju dengan keputusan Islamabad untuk menyerahkan anggota-anggota Jundullah yang tertangkap di Pakistan kepada Iran, karena mereka yang melakukan tindakan yang merugikan negara Iran maupun Pakistan harus ditindak tegas.

Dulu,

Surat kabar The Sunday Telegraph mengungkap rencana jahat Presiden AS George W. Bush di Iran. Dalam surat kabar itu disebutkan bahwa Bush telah memberi “lampu hijau” pada CIA untuk melakukan operasi “gelap” guna membuat kacau dalam negeri Iran.

Tujuan akhir dari operasi itu adalah menumbangkan pemerintahan yang sedang berkuasa di Iran. Sumber-sumber intelejen yang tidak mau disebut namanya mengungkapkan, berbagai cara sudah direncanakan AS untuk menjatuhkan pemerintah Iran, antara lain propaganda dan penyesatan informasi tentang pemerintah Iran saat ini, memanipulasi mata uang dan transaksi finansial internasional.

Presiden Bush disebutkan pula, juga sudah mengizinkan CIA untuk mengumpulkan informasi dari para tokoh Iran yang diasingkan ke luar negeri dan dari para imigran asal Iran yang ada di AS. “Orang-orang Iran yang ada di AS selalu melakukan kontak dengan keluarganya yang ada di Iran, dan mereka ada sumber informasi yang baik, ” kata seorang sumber intelejen AS pada The Sunday Telegraph.

Untuk mendukung rencana Bush di Iran, CIA memberikan bantuan pada kelompok oposisi dan milisi di Iran, termasuk kelompok Jundullah yang beroperasi di perbatasan Iran-Pakistan.

Akhir pekan kemarin, Iran menangkap 10 anggota kelompok Jundullah. Ditangan mereka, aparat Iran menemukan uang tunai sebesar 500 ribu dollar dan sebuah peta wilayah-wilayah yang dianggap rawan serta peralatan spionase yang cukup modern.

The Telegraph dalam artikelnya di bulan Februari mengungkap kegiatan rahasia AS yang mendanai kelompok-kelompok separatis di Iran. Tujuannya untuk memberikan tekanan bagi pemerintahan Mahmud Ahmadinejad.

Lebih lanjut dalam artikel The Telegraph edisi Minggu (27/5) disebutkan bahwa salah satu target utama rencana sabotase CIA di Iran adalah menggagalkan program nuklir negara Iran. Hal tersebut diungkapkan oleh mantan pejabat senior departemen luar negeri AS Mark Fitzpatrick.

“Salah satu cara sabotase adalah membuat modifikasi dengan kualitas rendah sejumlah komponen yang dibutuhkan Iran, dan didapatkan Iran dari pasar gelap, ” katanya.

Menurut Fitzpatrick yang kini menjadi staf ahli di Institute for Strategic Studies (IISS) di Washington, melakukan sabotase di sektor industri merupakan cara yang lebih disukai AS untuk menghancurkan progran nuklir Iran daripada melakukan serangan militer. Karena operasi sabotase tidak meninggalkan jejak, tidak meninggalkan “sidik jari. “

Para pakar mengatakan bahwa apa yang dilakukan CIA adalah pengganti dari opsi militer yang direncanakan AS dan sejak lama menjadi ambisi wakil presiden AS Dick Cheney.

“Saya pikir mereka menyimpulkan bahwa serangan militer lebih banyak kerugiannya daripada keuntungannya, ” kata Bruce Riedel, salah seorang pengamat.

Dan sejak dulu juga,

Presiden AS George W. Bush sering melontarkan pernyataan-pernyataan provokatifnya tentang nuklir Iran. Ia mengatakan, Iran harus dilarang memiliki senjata nuklir, karena jika Iran memiliki senjata nuklir akan menimbulkan “ancaman yang berbahaya” bagi perdamaian dunia.

Bush dengan retorikanya bahkan mengatakan, kemampuan yang begitu cepat dalam membuat senjata nuklir, bisa memicu perang dunia ketiga. Apalagi pemimpin di Iran, kata Bush, telah mengumumkan bahwa ia ingin menghancurkan Israel.

“Oleh sebab itu saya katakan pada masyarakat dunia, jika Anda ingin menghindari Perang Dunia III, sepertinya Anda harus mencegah mereka memiliki pengetahuan yang penting tentang bagaimana membuat senjata nuklir, ” tukas Bush.

Pernyataan Bush itu sebagai reaksi atas pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang baru-baru ini berkunjung ke Teheran. Dalam kunjungan tersebut, Putin mengatakan bahwa ia tidak melihat bukti bahwa Iran sedang membuat senjata nuklir.

Bush meminta Putin mengklarifikasi pernyataannya itu. “Karena, ketika saya mengunjunginya (Putin), ia mengatakan bahwa ia memahami kepentingan dunia untuk memastikan bahwa Iran tidak boleh memiliki kemampuan untuk membuat senjata nuklir, ” ujar Bush.

Sementara itu, Hillary Mann, mantan pejabat Gedung Putih urusan Timur Tengah, menilai pernyataan Bush itu sebagai pertanda bahwa rejim Bush telah meningkatkan level retorikanya terhadap Iran.

Menurut Mann, definisi baru dari ancaman dan pengetahuan tentang nuklir yang dilontarkan Bush tentang nuklir Iran, terkait dengan kepentingan dan posisi sekutunya Israel.

Bahkan sejak lama,

Untuk mengganggu program nuklir Iran, CIA menggelar program rahasia dengan merekrut secara diam-diam ilmuwan-ilmuwan nuklir dan para pejabat militer Iran.

Hal tersebut diungkapkan oleh sejumlah pejabat dan mantan pejabat CIA yang tidak mau disebut namanya. Mereka mengungkapkan, Gedung Putih boleh saja mengatakan bahwa program itu bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang perkembangan kemampuan nuklir Iran, tapi sebenarnya, tujuan utamanya adalah untuk menghambat program nuklir Negeri Para Mullah itu.

Program ini, yang oleh sumber-sumber di CIA disebut dengan istilah “Brain Drain” sudah dirancang sejak dua tahun yang lalu, dengan merupakan bagian utama program intelejen dengan target negara Iran. Program itu disetujui oleh Gedung Putih, dan salah satu hasil kerja program inntelejen itu, diluar dugaan Gedung Putih, karena tim intelejen memastikan bahwa program nuklir Iran memang untuk tujuan damai.

Hasil penilaian itu, menjadi tamparan keras bagi kredibilitas pemerintahan Bush yang selama ini meyakinkan dunia internasional agar menentang program nuklir Iran, karena dianggap disalahgunakan untuk membuat senjata nuklir.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: