Wawancara Kerja
Mei 16, 2008 at 8:39 am | In jalan-jalan |Kemarin aku kedatangan tamu. Anak kampus. Katanya mau PKL. Walah….wong cuman warung ndeso kok mau dipake PKL. Tahu warung ndeso? Itu lho yang kaleng kerupuknya digantung didepan warung.
Nah aku bingung njawabnya. Bukan apa-apa, soalnya apanya yang mau dijadiin bahan PKL. Kasian kan mahasiswanya. Udah sekolah tinggi-tinggi cuman disuruh jaga warung. Ngasih kembalian kalau yang belanja duitnya gede. Masukin kerupuk ke plastik kalau ada yang beli. Ngga tega ngeliatnya. Atau mau diminta ngontrol cash flow, bikin budget bulanan, atau bikin target bulanan ama tahunan? He…he…he… nggak ada itu diwarungku. Atau bikin program untuk kasir yang sekarang marak dipake hypermart, supermarket, toko-toko besar itu? He…he…he… sehari dapet 100 ribu udah lumayan. Kok mau dipasangin program begituan. Entar malah jadi besar pasak ketimbang tiangnya.
Tapi kalau ada yang nembung kayak gitu, aku jadi inget dulu waktu masih asyik kerja di Bekasi. 12 tahun lalu memang aku masih di Bekasi, kerja jadi buruh orang asing. Sekantor sama si Nagata, Sakamoto, sama dua lagi tapi aku lupa namanya, terus sama si Payung orang Makasar sama si Batak yang seorang lagi. Kadang kangen sama mereka. Udah bertahun-tahun nggak ketemu. Kemarin pas aku ke Bekasi nggak sempat nyari mereka.
Kadang-kadang perusahaan tempatku mburuh itu butuh karyawan baru. Bagian personalia biasanya yang ribut nyariin orang baru. Lha biasanya yang lolos babak pertama dari personalia kan terus dibawa masuk aja ke pabrik. Nah bagian kami bikin acara babak kedua. Pake interview lagi disitu, juga masa training yang biasa 3 bulan itu. Ya begitulah, bagian personalia dapet jatah masukin orang, kita dapat jatah ngusir orang. Inilah saat-saat yang mengasyikan bagiku. Karena bakat alamiahku bisa tersalurkan. Ngerjain orang…….
Nggak ngaca ni aku. Lupa saat aku juga diinterview waktu mau masuk kerja di sana. Tapi memang sih, aku nggak ngerasa ada yang aneh dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Kujawab saja sekenanya. Karena memang nggak serius mau kerja. Eh…alhamdulillah masih keterima juga. Makanya bagi siapa saja yang mau interview, ganti wawancara deh, mending nyantai saja. Jawab sekenanya, kalau emang rejekinya nggak akan kemana kok.
Tahu nggak? Yang jadi pewawancara itu menikmati sekali sama moment interview itu. Bener… Jadi jangan mau dikerjain sama mereka. Dulu aku juga begitu. Kalau yang diwawancarai keringetan, aku langsung keluar ruangan, terus ketawa ngakak gitu. Kalau sudah lega masuk lagi, pasang muka serius lagi, biar calon pegawai itu keringetan lagi. Gitu…
Asal tahu aja ya….
Biasanya pewawancara itu ada jurus yang sudah disiapin. Namanya jurus jebakan. Dari perguruan mana ya jurus ini diciptakan? Memang disitu asyiknya. Jadi ya cuman mau njebak doang, sadis nggak?
Tapi biasanya juga pertanyaan pas wawancara itu ya cuman begini aja kok, misalnya:
1. Mengapa kami harus mempekerjakan anda?
2. Motivasi apa yang anda bawa?
3. Mengapa tertarik bekerja di perusahaan ini?
4. Apa kelemahan utama anda?
5. Mengapa berhenti dari perusahaan terdahulu?
6. Bagaimana kita mengatasi masalah?
7. Prestasi apa yang dibanggakan?
8. Berapa gaji yang anda harapkan?
9. Bisa ceritakan mengenai diri anda?
10. Adik anda sekarang dimana?
Nah, gampang kan pertanyaannya. Kalau ada yang susah paling ya jawabannya. He….he…he…
Namanya juga jebakan .
Tapi apapun jawabannya, kalau kita pede, mudah-mudahan beres. Tentunya ba’dallah (tergantung keputusan Allah, takdir). Omong-omong, kamu percaya takdir? Iman kepadanya? Ini bukan jebakan lho.
Persisnya gimana ya jawabannya? Nggak ada yang pas untuk itu. Tergantung situasi sama kondisi baik pewawancara maupun yang diwawancara.
Tapi ngeliat pertanyaan tadi, coba deh kita jawab urut;
1. Itu adalah peluang kita untuk “pamer” diri kita. Kadang sampe “jual diri” kita. Kalau jawaban kita yang umum-umum saja, nggak keren tuh. Berikan jawaban yang rada spesifik gitu. Semakin unik jawaban kita, semakin menarik tuh.
2. Yang ini nih musti ati-ati. Boleh saja motif orang berbeda. Tinggal kita saja. Mau idealis atau mau nyari kerja. Maksudnya kalau mau idealis siap-siap nganggur lagi. Tapi kalau mau nyari kerja, yang realistis saja lah.
3. He..he…he…. mesti jual mahal ni. Jangan kasih tahu kalau kita lagi butuh duit, terlalu merasa butuh sama pekerjaan. Tapi lanjutkan jawaban pertama dengan keuntungan perusahaan bila kita ada disana. Tentunya bekal pengetahuan tentang perusahaan yang kita lamar juga kita tahu. Nah jadilah seolah-olah kitalah yang punya perusahaan itu. Kita bakalan keliatan top deh.
4. Ini cuma tes psikis doang. Yang terbaik itu bukan orang yang nggak punya kelemahan. Tapi mereka yang bisa ngakalin kelemahannya, menutupi kekurangannya dengan kecanggihan akal dan ketekunan serta kejujuran. Jujur saja, sekarang ini susah nyari orang jujur.
5. Tentunya bagi mereka yang pernah kerja sebelumnya. Yang ini nih yang paling menjebak. Kadang nggak nyadar kita terperosok karena ulah kita sendiri, sok tahu. Keluhan-keluhan kita tentang kerjaan kita dulu nggak ada manfaat tuh. Kalau sama perusahaan yang pernah nggaji kita bertahun-tahun saja kita tega “berkhianat”, apalagi di tempat yang baru nanti? Nah lo… Intinya diplomatis lah….(kalau nggak mau dibilang sedikit nggombal).
6. Susah ya njawabnya. Tapi begini saja. Kalau kita orang yang terbiasa hidup tertib, tahu skala prioritas, bertanggungjawab dengan diri kita sendiri, nggak panikan kalau ngadepin masalah, keep smiling gitu, nggak susah kok. Biasanya kala kita menghadapi masalah kan langsung tergambar nih skenario yang mau dipake mberesin itu masalah. Ya sudah, tinggal membeberkan saja kepada pewawancara. Jadi intinya kan cuma ngomongkan yang ada dipikiran. It’s easy man….
7. Prestasi yang dibanggakan? Well…buanyak kan? Inget waktu masih pake baju seragam SD dulu kita sukses menjadi saudagar mangga? Atau kala upacara bendera kita selalu jadi inspektur upacara, ngalahin pak kepala sekolah? Atau jadi juara lari sprint kala dikejar anjing pak Anton kala jambunya kita rontokin? Tapi apapun prestasi itu, liat dulu….ada kaitan nggak dengan posisi kerjaan yang ditawarkan perusahaan. Jadi setinggi apa juga prestasi itu, kalau nggak relevan dengan tema yang dibahas, ya nggak konek atuh… Nggak ada gunanya. Salah-salah kita disangka nggak ngerti situasi dan kondisi. Jadi, berikan jawaban yang lebih profesional dan lebih relevan. Pikirkan kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan dan kembangkan contoh yang menunjukkan gimana kita dapat memenuhi kebutuhan perusahaan. Ngecap juga….
8. Gaji berapa ya…. Pertanyaan ini juga jadi yang tersulit terutama bagi yang tidak punya pengalaman kerja yang cukup. Ingat poin ke-3 tadi? Yang perlu dilakukan sebelum wawancara adalah mencari tahu “pasaran” gaji untuk posisi yang ditawarkan biar kita nggak malu-maluin, tapi bisa memberikan jawaban yang memukau! Kasih tahu saja pewawancara bahwa kita terbuka untuk bicara soal kompensasi bila saatnya tiba. Bila terpaksa, berikan jawaban yang berupa kisaran angka, jangan angka bulat. Emang nawar barang apa….
9. Siapa kita ini ya…. Susah nih. Gampang pertanyaanya tapi susah njawabnya. Yang pasti kita harus menyadari bahwa pewawancara tidak tertarik untuk mengetahui apa yang kita lakukan di akhir minggu atau dari mana kita berasal. Pewawancara cuman pengin tahu kita secara profesional. Siapkan dua atau tiga hal mengenai diri kita, baik pengalaman kerja maupun sasaran karir kita dan inget….tetap konsisten. Rangkum jawaban kita dengan mengungkapkan keinginan kita sebagai bagian dari perusahaan tersebut, inget juga jangan bawa-bawa duit. Bila memiliki jawaban yang mantap maka hal ini dapat membawa kita pada pembicaraan yang memperlihatkan kualifikasi kita, kualitas kita, cieee…..
10. Yang ini nih cuman iseng saja. Kita musti pasang muka serem. Gantian kita lah, masa dia terus yang tampangnya serem. Pastinya dia mau nggaet adik kita yang imut-imut itu. Dasar lelaki. Nggak tahu diri kan, waktunya serius gitu, masih sempet nyerempet bahaya, main api gitu. Nah ini saatnya ceramahin dia. Bayangkan kita lagi jadi Jefri atau Mansur gitu. Wah…nggak jadi keterima deh kita. Ya sudah. Daripada adik kita diusilin, mending cari kerja di tempat lain.
Nah, demikian resep sehat gaya kita-kita. Mau coba? Nikmati sensansinya…..
Tapi, omong-omong soal nyari kerja, yang paling enak itu mereka yang nggak bingung gara-gara nyari kerja. Tapi mereka yang enjoy aja….. santai man. Jadi penganggur tapi banyak waktu longgar. Mau…???
Masih belum ada komentar »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan komentar
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.






ilmu itu ada 3, Qur'an Hadits dan Faraidh. yang lain hanyalah tambahan